Awal,Temu,Senyum
Hari ini adalah hari dimana aku memasuki
kelas baru sebagai murid kelas tiga. Hari untuk pertama kalinya aku tanpa
sahabat.ku. Karena kami memang berpisah kelas. Suatu kebijakan egois para guru.
Begitu masuk, aku tak tau harus duduk dimana. Aku melihat bangku kosong
dibelakang. Aku putuskan untuk duduk disana sendirian. Menunggu. Kali aja ada
yang mau duduk bersamaku disana. Bel berdering. Masih saja aku sendiri. Aku
mulai celingak-celinguk. Benarkan aku akan duduk sendiran di belakang.?
Kemudian salah satu temanku yang dulu sekelas denganku, melambaikan tangan
kearahku. Ia mengisyaratkan agar aku duduk disebelahnya. Dibangku kedua dari
depan. Di depanku, ada dua cewek yang duduk disana. Bangku paling depan. Tepat
didepanku, adalah cewek yang sudah membuat sahabatku keder. Tapi seiring
berjalannya waktu, cerita nya berubah menjadi sad ending. Disebelahnya duduk
cewek berjilbab. Aku tak mengenalnya. Dia hanya duduk diam. Memebaca buku. Aku
putuskan untuk cuek saja. Toh masih tidak kenal satu sama lain kan. Aku masih
tak memiliki teman bicara. Meski aku duduk dengan teman satu kelasku dulu. Ia
lebih sering keluar kelas untuk bicara dengan temannya yang lain. Aku
menghabiskan waktu ku dengan mencorat-coret buku tidak jelas. Bosan dan kosong.
Aku merasa ingin pulang kala itu.
Esoknya,
hari-hari ku sama seperti kemarin. Biasa. Bosan. Dan menyedihkan. Terkadang aku
tak memeperdulikan guru yang sedang memberikan materi pertama. Tak berselera.
Aku merasa ingin pulang. Terkadang, karena bosan yang berlebih, aku malah suka
berceletuk sesuatu yang menggelikan. Dan aku melirik kearahnya sesekali. Dia
tertawa. Selanjutnya ia sesekali menoleh kepadaku. Aku tak peduli. Cuek. Karena
bosan yang berkepanjangan. Toh yang lain juga tertawa mendengar celetukanku.
Bukan hanya dia saja. Waktu istriharat, aku habiskan dengan mencorat-coret
buku. Tak ada teman bicara, Aku sempat berpikir aku akan jadi manusia terkuper
dikelas ini. Aku ingin pindah kelas waktu itu. Kemana saja, asal tidak dikelas
ini. Esoknya pun begitu. Saat ini waktunya mapel Bahasa Mandarin. Kebetulan
guru yang mengajar adalah mahasiswa yang sedang kupikir, Magang. Atau berlatih
mengajar. Tugas dari Universitas mereka. Aku tak berselera untuk memperhatikan.
Bosan.Mereka adalah empat mahasiswa perempuan. Berkerudung semua. Dan, aku
menduga mereka pasti bawel. Lalu salah satu dari mereka membuat sebuah games.
Games yang cukup aneh bagiku. Yaitu games kelengkapan alat tulis untuk sekolah.
Barang siapa tak lengkap membawanya, diharapkan maju. Aku memang tidak pernah
membawa lengkap alat tulis. Paling cuma bolpoin, pensil dan penghapus. Semuanya
berjumlah satu. Dan terkadang,aku lebih suka meminjam. Biasa. Meminjam lebih
menyenangkan daripada memiliki. Tapi untuk urusan pacar, jangan meminjam ya..
Semua siswa laki-laki dikelasku pun tidak ada yang membawa lengkap. Mungkin
hanya satu yang membawa lengkap. Cewek sekali dia. Kami pun yang merasa gentle
langsung maju. Tentu dengan kesepakatan gelap. Maju satu maju semua.
Kami
semua telah berada didepan kelas. Kami menunggu untuk menerima hukuman apa yang
akan dijatuhkan pada kami. Padahal kami tidak salah. Sebagai pelajar fakir,
tidak ada salahnya kan tidak membawa peralatan tulis secara lengkap. Tidak ada
undang-undang yang menyebutkan jika seorang siswa tidak diperkenankan untuk
tidak membawa peralatan tulis secara lengkap. Bahkan ditata tertib pun tidak
ada. Kemudian, salah satu dari mahasiswa tersebut mulai menjatuhkan hukuman. Bernyanyi.
Duh, ini mbak-mbak kok aneh-aneh ya.? Kami para cowok sempat berkumpul. Entah
membicarakan apa. Aku malah bertindak konyol. Dan dia ketika melihatku, dia
tertawa. Tatapan nya jelas menuju kearahku. Aku menatapnya bingung. Dia
kemudian berbisik pada teman sebangkunya. Matanya sesekali melirikku. Aku tak
yakin. Aku memutuskan acuh. Mungkin saja matanya tertuju pada anak lain. Toh
dibelakangku ada anak lain kan. Kemudian, kami pun mulai bernyanyi. Menjalankan
hukuman. Ketika selesai, seluruh siswa yang menonton kami bertepuk tangan. Dia
juga. Dengan senyum. Aku tak peduli. Bosan ku belum hilang. Tapi, senyumannya
tadi kepadaku kah.? Ah, halusinasi.. Aku pun kembali mencorat-coret buku ketika
duduk dibangkuku. Melalui ekor mataku, aku melihatnya menoleh kearahku.
Sedikit..
01.01
|
Label:
Cerpen
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Short Story Mind @ copyright 2013. Diberdayakan oleh Blogger.
Check
Riwayat Hidup
- Propariotik
- Gue adalah gue. Gue yakin jika gue akan jadi penulis. Kenapa..? Karena gue saat ini sedang menulis ini. Nggak percaya, liat aja tulisannnya. Follow @propariotik
0 komentar:
Posting Komentar