Tampilkan postingan dengan label Ah lagi Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ah lagi Curhat. Tampilkan semua postingan

Tulisan Pejantan Alpha

Gue tak pernah mengira, menjadi seorang pejantan alpha, bisa menjadi seberat ini. Ya, memiliki anak-anak yang harus diasuh dan membesarkan mereka sangatlah tidak mudah. Salah masukan, salah pula output yang dihasilkan. Sesuai dengan peribahasa, kau menuai apa yang kau tanam.

Menjadi seorang mahasiswa semester ke 5, merupakan tanda jika usia telah semakin menua. Datangnya maba menjadi tonggak awal dalam menandakan "Hey, dirimu sudah tua!". Wajah culun mereka, senyum takut-takut mereka, cengiran malu-malu, bahkan sikap curi-curi pandang mereka, menjadi satu ketika pertama kali masuk ke dalam jurusan. Yang namanya ospek atau kaderisasi, menjadi suatu momok menakutkan bagi seluruh Maba. Pikirnya cuma satu, "Senior itu dewa."

Menginjak semester 5 ini, pergumulan terkait organisasi menjadi hal yang biasa dalam hidup. Marah, seneng, tengkar, bahkan saling support. Namun tak hanya itu, terkadang seluruh diri kami dicemooh oleh sebagian orang yang menganggap kami sebagai orang yang bodoh. Tak pernah terkira pula, gue memegang jabatan yang notabene nya "Mengurusi maba". Mayoritas seluruh kegiatannya adalah memang untuk mengembangkan skill dari mahasiswa itu sendiri. Pelatihan, upgrading, dan lain-lain, menjadi hal yang membosankan bagi departemen ini, Namun, hiburan selalu datang jika membahas ospek/Kaderisasi.

Terkadang, yang namanya maba selalu dijadikan objek yang harus selalu menderita. Pertama oleh senior, kedua oleh senior jurusan lain, ketiga oleh asisten praktikum yang nyatanya adalah senior. Ya, maba adalah rakyat jelata yang harus tunduk terhadap yang namanya dewa (Senior.red). Tetapi, ada pula yang berusaha mematahkan mitos tersebut. Ada dua hasil yang mungkin terjadi, pertama dia akan diakui oleh senior, kedua dia akan dijadikan bahan bullyan selama setahun. Tapi, mayoritas yang kedua, sih.

Ini kenapa gue jadi melebar, yak? Oke, selow.

Jadi, selama gue memangku cewek, eh jabatan ini, gue udah merasakan beberapa hal yang sudah dijalani oleh para sesepuh dahulu. Yang namanya himpunan, itu menghimpun mahasiswanya, menyatukan aspirasi, dan bergerak. Tapi fakta lapangan yang terjadi adalah, mahasiswa yang dihimpun harus dicari dulu seperti kita menggiring bebek. Kenapa, karena dari pihak fungsinaris dari himpunanlah yang harus mencari massa dalam setiap kegiatan. Definisi sebagai fasilitator bagi seluruh mahasiswa, tidak terjalankan secara benar. Kesan yang timbul adalah para pembuat acara membutuhkan orang untuk menyukseskan acaranya. 

Oke, tulisan ini kemudian menjadi serius, dan tiba-tiba suasana tegang! So, selow aja.

Ini pendapat gue, harusnya ketika suatu himpunan menjadi fasilitator, dia tidak seharusnya bingung dengan massa yang akan hadir dalam acara tersebut. Ketika dia mulai bingung, maka satu pertanyaan besar, apakah perannya sebagai fasilitator sudah mulai mengalami degradasi dan berubah menjadi Event organizer swasta? Jikalau begitu, mending bubarkan saja himpunan itu! Banyak yang mengatakan bahwa "Mungkin, engkau kurang mengajak kita-kita aja. Coba dong diajak.".

Kita sudah mengajak. Dan hasilnya, yan tetap saja itu-itu saja. Spesies yang sama, varietas yang sama, dan perilaku yang sama.

"Tembungi personal!" Gue sudah lakukan hal itu, dan nyatanya dia tidak datang pada acara tersebut.
Dunia organisasi kini menjadi keras, layaknya bursa bola yang terus melangit hingga kini. Kalau secara bodoh gue boleh memilih, gue lebih memilih maih mahjong daripada uler tangga.

Lah, malah main uler tangga, author goblok!

Oke, itu hanya secuil masalah seputar dunia organisasi gue. Itu hanya luarannya saja. Dalam internal pun demikian susah. Bukannya gue mengeluh, tapi memang seperti itu yang dirasakan. Mengisi gelas kosong itu mudah, tapi untuk mempetahankan isian kita pada gelas yang haus akan cairan, itu susah. Haruslah isian kita itu berkerak, menempel, bagai jigong pada gigi! 

Harapan sebagai pejantan alpha selalu tinggi pada calon penerus ini. Akan tetapi, perlahan kobaran api mereka perlahan mulai meredup di sela-sela kabut kesibukan yang mencekam. Hal itu yang selalu gue takutkan. Ketika tiada yang meneruskan langkah kita, mau dibawa kemana mimpi kita nanti?

Mungkin itu dulu aja yang bisa gue tulis, Nantikan tulisan-tulisan lain. Melalui tulisan ku bersuara, mengungkap rasa dan logika, kau tak bisa melawan kata, karena dia selalu berada di sana.


Kontrak Berakhir

Entah sudah berapa kali gue gue mikirin ini. Mungkin sejak gue menemukan seseorang yang bisa ajak gue jalan bareng, tapi pada nyatanya tidak. Hanya suara dan text dari negeri antah berantah yang saling sahut menyahut.

Nyaris setahun-atau lebih tepatnya kurang lima bulan lagi setahun, kami menjalankan komitmen ini. Komitmen yang pada awalnya hanya bercanda, namun berubah serius dan menjadi prospek masa depan. Tapi entah. Seiring berjalannya waktu, prospek itu seakan mangkrak.

Hal ini berawal dari konflik yang tercipta beberapa bulan lalu, konflik yang sebenernya sepele, tapi berujung mengenaskan. Kontrak sempat berakhir sebelum akhirnya diperbaharui sebulan setelahnya. Namun, dalam praktiknya, kontrak ini terasa berbeda. Terdapat rasa yang berbeda ketika mengulang kembali kontrak yang pernah gagal. Tidak sama lagi.

Perbedaan rasa itu terjadi ketika kami memutuskan untuk menjalin kontrak kembali. Awalnya, mungkin masih seperti kontrak awal. Namun, lama kelamaan jadi terasa berbeda. Rasa tidak nyaman pun muncul. Gerah dan jenuh. 

Akibatnya, sering terjadi miss komunikasi. Selain itu muncul pula pertengkaran kecil yang kadang tidak penting, dan selalu berakhir dengan keterdiaman lama. Dan itu membuat rasa jenuh itu kian menjadi.

Jika dahulu, tidak saling memberi informasi, pasti ada rasa yang janggal. Namun, ketika sekarang, seolah itu adalah hal biasa. Mungkin lebih baik jika tidak di memberi informasi. Kita berkerja sesuai dengan job desk masing-masing, tidak saling interaksi padahal masih berkaitan.

Hingga pada akhirnya, kami memutus kontrak atas kesepakatan bersama. Tidak ada dendam mungkin diantara kami, karena memang ini yang kami inginkan. Tidak ada yang salah di sini dari kedua belah pihak. Hanya saja, komitmenlah yang berperan. Tanpa komitmen, mungkin kontrak ini sudah berakhir dalam satu bulan pertama


Dibalik Anak Tunggal

Gue hari ini sebel banget sama ortu gue. Semua berawal dari dilarangnya gue untuk ikut acara seminar kepenulisan yang diselenggarakan oleh Diva Press, yang memiliki acara bernama Kampus Fiksi Roadshow. Gue masih inget apa kata Ayah, ketika gue minta diantar ke sana.

"Kamu ke sana pulangnya gimana? Jam tiga sudah nggak ada angkot. Kamu bakal kayak orang hilang di sana. Orang nggak punya kendaraan kok."

Dan gue, dengan berat hati merelakan acara tersebut tanpa kehadiran gue.

Setelah itu, gue ngerasa menjadi anak tunggal itu nggak enak. For Your Information, gue adalah anak tunggal. Gue nggak ngerasain bagaimana seorang Kakak melindungi adiknya, bagaimana seorang Adik bisa manja sama Kakaknya, dan Bagaimana penyelesaian rumus Integral pangkat dua? Oke, skip!

Kata orang, anak tunggal itu enak. Banyak dimanja, banyak diturutin kemauannya. Gue bilang, Ya! Tapi sebagian aja. Selebihnya, ortu akan lebih protektif kepada kita, layaknya Anjing herder yang ngelindungin majikannya. Apa-apa harus ijin orang tua dulu. Jika mereka tidak suka, mereka bakalan bilang,

"Udah, jangan mbangkang! Nurut sama orang tua! Ntar durhaka! Mama kutuk baru tau rasa!"

Secara tidak langsung, itu merusak mental kami sebagai anak tunggal.

Akibatnya, banyak dari anak tunggal yang menjadi 'Anak bawang' alias yang selalu jadi akal-akalan. Semisal mau diajak Hang Out.

"Ayo, kita main ke Mall. Nongkrong di Starbuck, yuk! Gue setengah delapan malem."
"Wah, sori, aku nggak bisa. Aku gak boleh pulang malem-malem sama Mama. Katanya, dia takut aku diculik."

Please, man. Kalo lo SD, masih wajar lo nggak boleh pulang malem. Ini lo udah kuliah, lo udah baligh, titit lo siap dipakai malah. Eh, kok jadi vulgar gini, ya? Oke skip.

Gue ngerasain sendiri jadi anak tunggal itu nggak enaknya gimana. Gue nggak boleh keluar malem-malem, mau kemana-mana harus ijin dulu, urusan kita mereka juga harus tau, bahkan mereka menawarkan diri untuk nganter kita kemana pun kita mau pergi.

"Ma, aku pergi dulu, ya. Assalamualaikum."
"Eh, tunggu! Biar dianterin Ayah."
"Nggak usah, Ma. Kan deket."
"Udah, biar Ayah yang nganter!" Nadanya mulai tinggi, membuat jantung gue mau meledak.
"Yaelah, Ma. Ini mau ke warung sebelah beli kopi!"

Namun, hal aneh justru terjadi pada gue. Gue kalo kemana-mana diharuskan sendiri. Bener gue bisa mandiri. Cuman, sewaktu mau berangkat,

"Kamu mainnya jangan jauh-jauh! Ntar diculik."

See? Ini lah mengapa Anak tunggal menjadi cupu dan cemen kayak gue. Lah? Oke, skip!

Keanehan berikutnya adalah, ketika gue lagi nyantai dan gabut. Gue pasti diomelin sama Mama.

"Kamu itu, mbok ya main sana sama temenmu. Tidur mulu kayak jenazah di ruang mayat!"
"Main sama siapa, Ma? Temenku belum pulang libur kuliah."
"Ya, sama si Jefry itu. Ajak dia main!"
"Tapi, dia kan masih SD kelas empat."
"Ya, terus? Masalah?"

Kebayang lo ajakin anak SD kelas empat nongkrong di warung kopi, terus lo ajak main kartu, taruhan, terus diajakin ngerokok. Pulang-pulang, bapaknya dia siap mancung elo.

Dan ketika gue main mulu, Mama akan selalu ngomel,

"Kerjaanmu main mulu. Mbok ya, belajar sana. Ngisi waktu luang dengan baca buku."

Gue disuruh main biar ada kerjaan, eh, pas keenakan main gue disuruh baca buku. Ntar, gue baca buku pasti diomelin lagi,

"Baca itu buku pelajaran! Kok, ya novel malahan. Punya Radit lagi. Itu kan novel becandaan yang nggak jelas itu."
"Kan yang penting baca, Ma."
"Ya, yang bermanfaat dong! Kayak buku Fisika gitu. Pokoknya yang ngitung-ngitung gitu. Biar otakmu ada nutrisinya."
"Ma, aku jurusan Biologi. Kenapa harus belajar Fisika?"
"Ya, ntarkan berguna buat ngitung, berapa jarak loncatan cicak ketika menangkap mangsa menggunakan gerakan parabola."

Sampai di sini, gue berasa pengen makan Kaporit.

Selain itu, kekekangan demi kekangan selalu gue dapatkan. Kalau mau pergi jauh aja, selalu ada alasan untuk menghalangi gue untuk berangkat. Hingga akhirnya gue batal ikut dan mengecewakan temen gue.

Kemudian muncul dipikiran gue, kenapa lo kok nggak bandel aja? Kayak menentang orang tua gitu.

Ini yang jadi masalah. Gue udah kedoktrin jika nentang orang tua adalah bencana. Jadi sebandel-bandelnya gue, gue nggak pernah nentang mereka. Sangat nggak lucu ketika gue bandel, gue disumpahin punya udel lima di perut. Gue bakal keseringan masuk angin dan perut gue baunya nggak enak.

Perkataan orang tua adalah sakral. Karena menurut dalil Al-Quran, ridho Allah berada pada Ridho orang tua. Akan tetapi, masak iya ortu kita musti campur tangan terus di hidup kita. Mau nikah, bakal dijodohin. Mau kerja, dipilihin tempat kerja. Mau ngasih nama anak, mereka yang ngusulin. Mau anak cewek atau cowok, mereka yang nentuin.

"Udah, kalian punya anak Cowok aja."
"Tapi kan, kita maunya cewek, Ma."
"Udah! Pokoknya cowok, atau mama sumpahin anak kalian cewek tapi berewokan!"

Gue mewakili anak tunggal ingin bersuara. Kita punya pilihan. Kita punya keinginan. Kami mohon, janganlah kalian mengekang kami. Kami tahu, kalian sayang pada kami. Terlalu sayang malah. Tapi, kami juga ingin hidup di jalan kami. Kami seperti ini bukannya mau durhaka, tapi kami punya hati. Kami punya tujuan. Kami sayang kalian. Biarkan anakmu ini berkarya melalui jalannya sendiri. Dukung kami, doakan kami. Tujuan kami cuman satu. Membahagiakan kalian, dengan cara kami sendiri.

Aku Pengikut Sekte, eh Grup Jamaah Typhobia ding

Engg... postingan ini dibuat karena gue selaku penulis mengalami dipol-dipol induksian dari anggota Jamaah Typhobia  yang lain. So, jangan salahkan saya bila saya keceplosan menulis dan tidak menghapusnya karena jari ini sudah kram hebat karena tidak sanggup untuk menekan tombol back space

Jadi, awal mulanya gue tau Jamaah Typhobia adalah ketika gue stalking twitter kampus fiksi. Disitu disebutkan macam-macam rumus ikatan kimia dan ikatan hidrogen sehingga membuatku keracunan ketika gue........ oke ini menyimpang. #Abaikan

Nah, gue membaca salah satu tweet yang bertuliskan jamaah typhobia. Awalnya, gue ngira ini adalah seperti sekte. Pikiran gue, ini anggotanya pasti memakai cadar item atau kalo nggak celananya cingkrang. Dan mindset ini tetap kupegang erat seperti balon hingga aku menjadi pengikut Jamaah Typhobia.

Dalam Sekte ini... eh.. Grup ini, ada mbah-mbahnya seperti Masja (Reza Nufa), Mbaop (Opie Khaliffa), Mbakei (Einca Sarii), Mbaek (Eka Anisa), Masju (Zuzu), Mbameys (Mey), Kamad (Amad kocil), dan Mbakang (Anggi... atau Ingga? Lupa). Dan ada lagi mbah-mbahnya yang lain yang nggak gue sebut karena dia jarang pulang... dia jarang... eh.. jarang nongol.

Kemudian ada cucu-cucunya seperti gue (Prop), Vee (Rahazlen Avelia), Trice (Trice Fakhri).

Seperti yang diketahui bahwa rumus X kuadrat merupakan... Maaf, gagal fokus.

Seperti yang diketahui, tiap-tiap anggota memiliki kepribadian ganda.. eh berbeda. Oke perbedaan itu akan gue gambarkan dengan seksama dan sesingkat-singkatnya.

Masja
"Seorang founder Jamaah Typhobia yang selalu memberi komentar pedas yang membangun terhadap cerpen yang dikirimkan. Lo bakal tau apa kekurangan lo saat bikin cerpen. Nantinya lo bakal disuruh revisi atau bikin lagi. Bikin lagi ini yang lumayan nyesek :D"

Mbaop
"Kemunculannya yang tiba-tiba dan tanpa di duga mengejutkan bek lawan. Yap, dia tiba-tiba bergabung tanpa sepengatahuanku. Atau memang gue yang kurang perhatian sama dia... entahlah.. Karena, firasatku berkata jika dia pernah berada di grup sebelah. Untuk karaktero orangnya, emm... belum begitu ngerti sih gue. Belom kenal deket soalnya. But overall dia asik."

Mbakei
"Ketika gue chat dia, pasti yang gue tanyakan adalah, ' kapan mau nikah. Udah pada ngantri tuh masih bingung aja '. Dia merupakan mak-mak yang bisa dikatakan menjurus ke nenek Insidious. Kadang dia suka memberi masukan.. tapi kalo udah lelah dan capek.. dia bikin ngeri... Gak bayang kalau beliau marah. Wih, canibalism will happen."

Mbaek
"Hmm... berasa punya guru tapi sekaligus punya emak. Apa ya, keibuan gitu. Jadi udah gue anggep mak gue sendiri. So, kalau gue mau minta beliin Kompi Allienware, gue ntar minta dia aja. Emm... karakteristik ke-emak annya ini terlihat di tulisannya yang selalu di dunia per-emak an."

Kamad
"Cowok yang lumayan kocak.. Koplak Cak! Meskipun begitu tulisannya jarang ada unsur komedi. Paling seneng chat sama mbakei.. #Cieee #Cimikiciw. Paling doyan ngepost hantu-hantu. Entah kenapa. Mungkin karena dia satu bangsa kali ya? Masih menjadi misteri."

Mbameys
"Ngakunya muda padahal uzur. Ngakunya 16 tahun padahal 26. Ngakunya.. ngakunya... bujangan... ternyata dia... beneran enam belas. Asik sih.. meski kadang jadi bahan candaan." note : Mbameys jangan marah sama aku, marah aja sama Mbakei. Ntar kan mbameys pasti dimarahin balik. :p

Mbakang
"Kusebut mbakang karena singkatan dari mbak dan anggi. So, mbakang is unique name right? Then she say no but i dont care :v. Suka nganuin hula-hula (kalo nggak salah berarti benar). Trus.. suka terlalu aktif di grup. Udah ah.. ntar mbakang jadi ganggang. Syerem

Prop
"Engg.. gue gak kenal dia.. sekali lagi gue gak kenal dia.. Cakep sih. Tapi... gue gak kenal dia."

Vee
"Dia adalah.. ehem.. adalah ehem.. adalah... nganu.. adalah.. apa itu.. emm.... #EdisiGrogi
Anggap saja dia Matahariku. Eits, jangan ntar panas. Anggap saja dia harta karunku. Dialah yang mengajakku join ke dalam sekte.. eh grup ini. Gue tertarik dan ikut. Dan efek grup ketika tau jika kami ada... ehem... adalah hedon. Dan kami di bully dan tiba-tiba hape mati. Yes, mereka bergosip tentangku, dosaku terhapus :v

Trice
"Dia suka ngaku tingginya 13,5 Cm. Suka chat panjang gak ketulungan, Suka bilang dia Muggle. Yang ingin gue tanyakan adalah, apa itu muggle? sejenis wafel kah? Ntahlah. Gue yakin dia tua dan lebih tua daripada aku yang imut kayak lumut."

Baiklah, dari deskripsi gue diatas, bukti konkrit apa yang kalian dapat? #Ditabok #EfekPengkaderan

Jadi kesimpulannya yang gue ambil, gue nggak salah masuk ke dalam sekte... eh.. grup ini. Karena di sini gue dapet banyak ilmu, banyak kenalan, dan banyak ide buat ngebully yang lain untuk gue jadiin tulisan komedi. Aib-aib itu akan selalu terkuak dan akan kutulis dalam lembaran cerita yang tanpa disadari hal itu akan bla..bla...bla..bla... #LambeMuru

Finally, Liliana Natsir dan Tantowi Ahmad lolos ke Final.... Sehingga gue harus menyekiankan tulisan yang udah bikin gue sakit mata, sakit jiwa, sakit gigi, dan sakit mental. So, gue mau mere-charge jiwa gue dulu. Yaitu dengan.... bermain PES. :D

Au Revoir ^^

Maba Detected (Rangkaian Test)

Hari pertama ketika melakukan akitvitas kampus, kami selaku maba (Yang terhomat), selain kepalanya dibotakin, kami juga diwajibkan untuk memakai pakaian Putih Hitam. Botak dan pakaian Putih Hitam. Mirip astor twister. Juga masalah yang lain adalah, wajib memakain pantofel. Sumpah, hal itu merupakan siksaan terberat dalan dunia pendidikan. Gue jalan tiga meter, telapak kaki gue udah kesemutan. Sepuluh meter, paha gue kram, seratus meter peluh pertama gue turun mengucur dari dahi ke hidung lalu ke mulut, sekilo kemudian kaki gue mati rasa, dan walhasil sejak hari itu pantofel adalah musuh utama gue.
Hari pertama, gue selaku maba (Yang terhormat) harus mengikuti serangkaian tes. Tes pertama adalah test toefl. Gue seumur-umur nggak pernah ngikutin tes toefl. Gue pikir, toefl itu cuman ngerjain soal bahasa inggris kayak ujian nasional gitu. Tapi.... ternyata berbeda. Sejam pertama, listening tes. Menurut pengalaman gue tentang listening tes, kuping lo diwajibkan sehat walafiat. Jika tidak, maka bisa dipastikan lo akan mendengar suara-suara gaib dari balik speaker.
Soal pertama mulai diputar. Gue manggut-manggut karena mengerti. Soalnya, yang diputar pertama kali cuman intro doang. Ketika soal pertama diputar, gue langsung mengumpati speaker dan pembaca soal yang ada di dalam speaker (?) Pasalnya mereka membacakan soalnya dengan kecepatan 800 rpm kalo nggak salah. Berapakah 800 rpm itu? Tanya anak teknik Fisika aja!
Soal pertama selesai di putar. Kami selaku peserta diijinkan berpikir. Baru mikir sekitar... 12 detik, soal kedua di putar kembali. Njrit! Lo becanda apa ngajak ribut? Soal listening UN aja disuruh mikir semenit aja udah ngos-ngosan. Ini 12 detik? Degradasi otak!
Ketika gue melihat soal kedua, soal keempat sudah dibacakan. Gue langsung panik. Ini gimana nasib soal nomer 2 dan 3 gue? Gue mencampakkannya pada akhirnya. Sadis!
Gue mengikuti permainan speaker tersebut. Sumpah, gue nggak ngerti dengan apa yang diucapkan oleh speaker. Gue cuman bermain batin dalam menjawab soal listening itu. Wallahualam.
Then, pindah ke stage dua. Reading. Kami cuman diberikan waktu kurang dari sejam untuk mengerjakan. Gue bersiap-siap. Dan ketika gue buka, gue langsung mengutuk sang pembuat soal. Isinya soal cerita dan panjang banget mecem kumis biksu. Mata gue panas, hati gue panas, panas..panas..panas... panasin airnya!
Hasilnya, beberapa soal tak terjawab. Aku tak sanggup. Lalu bel berbunyi dan ujian usai. Ujian gue end!
Hari kedua, gue tes Psikotest. Tujuannya untuk mengetahui apakah Mahasiswa itu waras atau tidak. Gue awalnya nervous ketika akan menjalani psikotes. Karena gue ngerasa, gue agak tidak waras. Gue berangkat siang. Saat itu udara panas dan terik matahari bersimbiosis penyiksaan manusia. Gue selalu berharap terdapat Air Conditioner alam. Merek panasonic kalo bisa.
Begitu masuk ke dalam kelas, seperti jargon Mama dedeh (Sejuk di hati). Dinginnya AC kelas mampu membuatku terbuai. Gue duduk di bangku paling tengah (Justify). Gue duduk di samping anak cowok yang mungkin lumayan ganteng (Jangan lo pikir gue tertarik terus gue suka dia!)
Kemudian, pemandu ujian menjelaskan peraturan ujiannya. Tahap pertama dari psikotest ini adalah memilih salah satu jawaban dari dua pilihan yang diberikan. Jujur ini sulit. Sulit karena.... aku tak bisa memilih diantara keduanya (ceileh..)
Selama tes, gue dibuat frustasi. Kedua pilihan itu benar-benar sulit untuk dipilih. Gue sempet galau ketika memilih jawaban. Tapi karena adanya malaikat, aku akhirnya menuruti perkataan malaikat. Namun sebelumnya, malaikat meminta pendapat kepada setan.
"Yak yang sudah selesai bisa langung ke tahap dua.."
Lah, ini gue belom selesai ngisi main lanjut aja.. What the f*ck!
Tahap dua, kita disuruh untuk menggambar. Kita diberi sebuah petunjuk yang harus dikembangkan. Otak gue langsung pilek. Harus nggambar apa gue??!!
Gue memanggil suatu jurus rahasia untuk mengatasi ini. The power of kepepet and frustation. Ini adalah jurus yang maha dahsyat. Ini adalah jurus yang aku kembangkan sendiri ketika Deadline makin deket. Dan dari 8 kotak, gue berhasil menciptakan gambar-gambar ajaib di luar nalar. Mulai dari dasi, tiang listrik, lorong, dan gambar lain yang absurd.
Kemudian tahap ketiga. Kita diharuskan untuk menggambar orang dan pohon. Dilarang tokoh kartun. Mampus! Gue nggambar siapa? Gue paling tinggi, gue nggambar kepala doang. Sekali lagi gue mengeluarkan jurus itu. Gue berhasil menggambar.... pengemis kurus kering akibat nggak makan tiga tahun (Gizi Buruk). Untuk pohonnya, entah pohon apa. Pokoknya ada akar, batang dan daun yang berbentuk seperti rambut keribo. Aku namai pohon itu Absurdicotus Keribondus Tc.
Selesai psikotest, gue keluar kelas langsung sarap. Kepala gue puyeng, gue jalan kayak orang mabok. Oh my god! Sampai kosan gue tepar.
Hari ketiga, tes TPA. Tes Pembuatan Angkasa. Eh, maksudnya Tes Potensi Akademik. Dari tes ini, yang paling berkesan ada tiga hal. Yang pertama, bel tanda waktu usai Ujian. Itu sangat sesuatu banget. Maksudnya... BIKIN JANTUNGAN. Untungnya, gue nggak mengidap sakit jantung. Seandainya gue mengidap, mungkin pada sesi pertama gue sudah meregang nyawa.
Kedua, soalnya bikin gue terkesima. Emejing. Gue terkesima akan soalnya sampai-sampai gue lupa untuk ngerjain soalnya. Kombinasi angka dan rumus sukses membuatku klepek-klepek.
Ketiga, karena emejingnya soal TPA, gue dibikin ngiler di sesi terakhir. Ini serius. Gue ngiler di sesi akhir. Iler gue membasahi LJK. Gue langsung panik. Gue takut LJK gue tidak lolos scan gara-gara iler gue. Diem-diem gue berdoa, tuhan keringkanlah bekas iler gue di LJK ini.
Dan rangkaian tiga hari akan tes-tes sebagai maba selama tiga hari usai. Seneng sekaligus sedih. Senengnya, ujian kelar gue bisa tidur seharian. Sedihnya, saking kecapean gue nggak bisa tidur. Sama aja boong!!

Sekian.

Maba Detected (Menjadi Botak)

Yoo wassap readers..!! Lama ya gue gak ngepost cerita. Biasa. Guelagi pikun kalo punya blog. Otak gue rada-rada gimana gitu. Tapi, karena hari ini, ehmm... gue punya laptop ama bebebnya (baca : modem) baru, gue mau ngeshare cerita tentang gue yang jadi maba. Lo tau kan maba? Mahasiswa bangsat! Ehh... becanda ding. Maba itu mahasiswa banda aceh. Ashhh... sori bajakk. Mahasiswa baru maksudnya.
Banyak orang yang menilai kalo jaman Mahasiswa Baru adalah jaman perpeloncoan. Kayak di gundul, di suruh ini itu, di suruh makan sambil nongkrong di atas meja dosen (becanda). Emang bener sih. Gue sempet disuruh gundul. Gue kasih tau, jujur gue bergidik ngeri saat gue mau digundul. Ibarat kata, leher lo udah mau dipotong pake sebilah pedang, di mana pedang itu udah nyentuh leher kita. Gue langsung ngedrop. Padahal, seminggu lalu gue barusan potong pendek. Nah sekarang, gue harus potong lagi dengan model gundul.
Sebelumnya, pengumuman potong gundul itu adalah potong plontos. Berdasarkan surat edaran rektor, Maba wajib mencukur rambut hingga plontos. Pas baca itu surat edaran, gue langsung keselek. Gue kan saat itu liat dari hape. Untung hapenya nggak ketelen. Semisal ketelen... yaudah. Tapi kemudian, direvisi jadi gundul max rambut 1 cm. Alhamdulillah lega.. setidaknya kepala nanti tidak gersang.
Parah lagi adalah temen gue. Seumur-umur dia hidup, dia nggak pernah ngerasain gundul. Bahkan ketika dia lahir, rambutnya udah gondrong saja. Berkibar, mengeluarkan asap panas. Dia langsung pucat pasi ketika membaca surat edaran itu. 
"Emak.. masak aku harus gundul? Duh, kiamat dehh.."
Gue hanya ketawa-ketawa melihatnya begitu. Gue kemudian memotivasi dia untuk gundul. Gundul itu menyenangkan kok.
Then, bencana itu terjadi. Gue dan temen, datang dengan gerak-gerik malu-malu ayam. Gue langsung masuk ke tukang cukur nya itu. Gue duduk. Mesin pencukur rambut mulai menyala. Perlahan namun sadis, bapak cukur itu mulai membabat rambutku. Kulihat rambutku berjatuhan ke mata. Kelilipan bego!
Tak berapa lama kemudian, gue berevolusi. Gue jadi manusia gundul yang hina. Sungguh sehina-hinanya. Mana bayar cukurnya sepuluh rebu lagi. Kampret bener. Temen gue langsung menggerutu karena rambutnya sudah longsor. Setelah bayar, gue dan temen gue pulang. Temen gue langsung photo selfie. Dia masih nggak percaya kalo kepalanya sudah kayak cilok bakar ujung. Di elus kepalanya, merasakan rambut yang masih bersisa.
Sementara gue, merasa biasa. Gue udah dua kali gundul sebenernya. Jadi tidak terasa begitu malu akan menjadi gundul. So my confident as strong as stone. Gue siap menjalani kegundulan ini dengan baik. Temen gue, siap untuk mengumpat setiap kali ada mata yang menatapnya lalu mengejeknya.

to be continued...

#Sepi


                Pernah nggak lo ngerasa kesepian? Pernah nggak lo ngerasa sendirian? Dan pernah nggak lo ngerasa hampa dalam hidup? Jika pernah, maka lo adalah orang yang sama seperti gue. Eits, tapi.. Gue ngerasain hal itu tidak hanya saat gue emang sepi dan sendirian. Tapi juga di saat ramai.
                Gue nggak orang yang susah untuk bersosialisasi. Bagi gue, lebih mudah donlod video bokep dari pada bersosialisasi dengan orang lain. Aneh? Orang kok gak doyan sosialisasi? Ya, biarlah. Idup gue emang gini. Suka-suka gue lah. Ato mungkin lo yang suka gue? Jadi pacar gue mau?
                Oke, gue mau tegasin ke lo semua buat lo yang baca ini, tolong jangan melakukan aksi Rasial kepada orang Afrika. Gue tau mereka item, gue tau mereka bau, gue tau mereka kadang pedofil. Tapi, please, mereka udah bawaanya gitu. Gak usah lo kata-katain. (Ini apaan sih?)
                Gue sekarang tinggal di sebuah komplek perumahan. Kenapa di bilang komplek? Karena rumahnya lengkap. Ada atap, ada pintu, ada jendela, dan yang paling penting ada temboknya. Kebayang rumah lo udah ada pintu, jendela, sama atap, tapi nggak punya tembok? Kandang ayam aja punya tembok, masak rumah lo kagak.
                Rumah gue warnanya kuning. Ehemm,, tapi jangan berpikiran kalo rumah gue bakalan ngambang di kali. Rumah gue nggak lebar, cuman panjang ke belakangnya. Jujur, selama gue di rumah ini, kesan yang gue dapet satu, panas bingit beroohh..
                Selain itu, rumah gue banyak tikusnya. Sekarang aja, sudah ada 4 KKT (Kartu Keluarga Tikus). Mereka ada Bapak, Ibu, dan tiga anak tikus. Oh, sungguh keluarga tikus yang sangat bahagia. Saking bahagianya, gue sempet emosi kalo liat mereka berkeliaran. Gimana nggak emosi, mereka pecicilan di atas pipa air gue. Gue lempar pake benda, mereka malah asyik beratraksi. Gue himbau bagi yang baca ini, adakah yang sudi untuk mengadopsi mereka? Please, gue udah ill feel.
                Berikutnya, di rumah gue jarang ada sinyal. Rumah gue adalah neraka sinyal bagi operator tertentu. Lo masuk rumah gue, gue jamin sinyal lo bakal langsung ilang. Temen-temen gue yang masuk rumah gue, pasti bakal emosi, depresi dan Renkarnasi (lah?)
                Namun, derita gue sesungguhnya adalah karena anak kecilnya yang ada di komplek. Mereka itu berisik nya bukan main. Terutama kalo hari menjelang malam. Wihh,, ramenya bukan main. Mereka itu macem Zombie. Teriak-teriak nggak jelas, suka gigit sesama, gigit mobil, gigit gue, gigit ayo gigit! ayo gigit! ayo gigit! ayo gigit! (What the hell -_-“)
                Setiap mereka teriak-teriak di depan rumah, pasti ada aura mistis tersendiri. Teriakan mereka cukup mengerikan, mirip Banshee. Jujur, gue terganggu atas ini. Gue nggak bisa konsen akan apapun yang gue lakukan di dalam rumah. Meskipun gue udah nyumpel telinga gue pake head set, teriakan mereka selalu terdengar. Mungkin mereka mengeluarkan suara sekitar 70 Db. Ini setara akan suara mesin pabrik.
                Gue sebenernya, pengen banget ngelabrak mereka. Tapi apa daya. Mereka banyak, gue sendiri. Kalo gue maju, gue takut ntar di gigit sama mereka. Ntar gue ketularan jadi Zombie. Gue teriak-teriak nggak jelas, gue gigit sesama gue, gue gigit ayo gigit! ayo gigit! gigit ayo gigit! ayo gigit!
                Selama di komplek ini, gue jarang punya teman. Ada dulu waktu gue SMP. Saat itu rumah gue di depan lapangan. Gue sering diajakin main bola bareng sama mereka. Tapi setelah gue pindah, jarang ada yang main bola. Efek gue pindah gini ya. Ah, gue memang kharismatik.
                Setelah itu, gue jadi suka menyendiri. Tiap hari gue bertapa di kamar. Meluk guling, meluk bantal, meluk tembok, meluk diri gue sendiri. Gue kesepian.
Hiks.. pengen nangis..
Njrit…  Malah ingus yang keluar..
Sial.. Ingus gue kering lagi..
Ah, gue laper.. Sudah ya, sekian cerita gue. Gue mau ngebersihin ingus gue yang kering ini. Ada yang mau?


Ribet



                Hidup selalu berubah. Begitulah yang aku percayai. Sebuah kalimat sederhana yang bisa membangkitkan motivasiku untuk hidup. Setiap kali aku menghadapi kegagalan, aku selalu mengingat kata itu. Dan entah kenapa, hatiku selalu lapang kemudian
                Hidup gue mungkin bisa dikatakan ribet. Gak karu-karuan lebih tepatnya. Dibilang menyenangkan enggak. Dibilang menyedihkan juga enggak. So so juga enggak. Ribet deh idup gue. Apalagi pas gue masuk SMA. Woohh ribet berganda.
                Keribetan pertama adalah satu, ketika pertama kali masuk SMA, gue gak punya temen. Ada pun gue gak kenal. Dia rada-rada memancarkan aura jahat. Aura yang mengancam keslamatan gue. Dan gue cukup menjaga jarak kepadanya. Tapi itu nggak lama. Gue akhirnya mendapat temen yang dulu pernah satu SMP am ague. Awalnya tidak ada gejala keanehan. Mungkin sesekali dia abnormal. Tapi kemudian aku diselingkuhi. Dia pindah duduk dan gue kemudian duduk sama seseorang yang berjidat lebar. Seseorany yang akhirnya jadi sahabat sependeritaan gue. Meski dia lebih menderita. Dan gue yang buat dia menderita. Muahahahaha..
                Ribet yang kedua adalaha para guru pengajar gue. Awalnya gue merasa bakalan bahagia sekolah di sekolah gue itu. Gue really excited banget kala itu. Satu dua guru, seem look fun. But lama kelamaan, ada beberapa guru yang bikin gue darah tinggi. Beberapa cenderung unik dalam mengajar. Sehingga berefek, gue gak bisa nyerap apa yang beliau sampaikan. Alias dong-dong.
                Kadang guru-guru gue berlagak kocak. Dari yang acting ngambek setengah mati. Sampai yang ngamuk gak karuan mirip naga yang lagi kehilangan nafsu makannya. Gue selaku siswa hanya bisa menampilkan wajah innocent kalo mereka udah ngamuk kayak gitu. Gue senyum, dilabrak. Gue merengut di gampar. Serba salah. Jadi kesimpulannya, guru marah itu sama dengan perempuan PMS. Apapun yang dihadapannya akan merasa serba salah. Bahkan pohon palem yang diem sekalipun.
                Tapi ada masanya guru-guru menjadi sangat menyenangkan. Seolah tak ada batas antara guru dan murid. Nah, kalo kita mau getok kepalanya pake sapu, bisa. Kan nggak ada batas. (Sangat tidak dianjurkan). Mereka akan mengajar dengan keceriaan. Dan percaya gak percaya, apapun yang diajarkan oleh guru dengan kecerian, itu akan mudah diserap oleh murid. Jadi para guru, dengarkan curhatku. Kalo ngajar yang ceria ya. Sambil ketawa. Sambil bercanda. Ato biar lebih diserap lagi, kalo ngajar pelajaran itung-itungan sambil outbound aja. Flying fox kalo bisa. Pasti itu murid langsung pinter.
                Ribet yang ketiga adalah masalah cinta. Ini asli ribet banget. Mungkin akan gue bahas di postingan selanjutnya. Gue gak pernah paham soal percintaan. Bahkan sandi-sandi cinta sederhana, gue juga masih nggak paham. Seperti kedipan mata. Gue pikir itu orang kelilipan kalo ngeliat gue.
                Cinta itu virus. Gue terdiagnosa terinfeksi cinta ketika gue baru empat bulan sekolah di sekolah itu. Gue jatuh cinta gara-gara keseringan ngobrol sama dia. Padahal dia itu keliatan cowok banget. Rambutnya aja nyaris mirip sama gue. Dia sering ngoceh masalah cowoknya. Gue dengerin. Gue mah iya iya aja. Nah gue nggak pernah pacaran. Jadi dengan menjawab iya, elo akan dipandang sebagai pakar cinta . (Jombloers.! Baca tuh.)
                Dia curhat ke gue terlalu lama. Tanpa dosa, gue menaruh benih-benih cinta. Menaruh benih-benih yang akan membuat kanker hati. Gue putuskan untuk PDKT. PenDek KeTat. Dia semakin sering cerita tentang cowoknya. Intensitasnya melebihi 3 jam perhari. Gue gak tau, jenis bibir apa yang ia pakai. Kuat banget. Selanjutnya dia cerita kalo dia bubaran. Gue turut prihatin. Akhirnya gue putuskan untuk temenin dia. Nah lumayan kan sambil PDKT. PenDek KunTet. Lama kelamaan gue makin deket sama dia. Nah gue lama kelamaan juga takut. Gue takut kalo semakin dekat dengan nya, takutnya gue nggak bakal jadian ama dia. Gue malah akan jadi kembar dempet sama dia. Gue gak maauu…
                Kemudian dewa cinta berperan jahat kepadaku. Bediss.. Dia menembakkan panah cinta nya ke cowok lain. Dan kemudian dia jadian sama cowok itu. Oh, gue patah hati. Patah perasaan. Patahin leher orang.! Gue jadi galon tiap waktu. Gue update status kayak orang sakit jiwa. Selalu menjurus kalo gue patah hati. Untung si Jidat lebar selalu nemenin gue. Dia ngebantu gue melewati masa sulit. Ngebantu gue bangkit. Ngebantu jadi PRT di rumah gue. Eh..
                Tapi, itu nggak lama. Gue kemudian nemu oase gue. Ya.! Sebuah air dari dalam kran. (Digeplak). Gue nemuin obat liver gue. Sakatonik liver. (Njrit.!). Gue ngeliat seorang cewek yang biasa aja. Nggak terlalu cantik. Dan pasti kakinya napak tanah. Gue terpesona. Gue ngeliatin dia. Tapi dia nggak ngeliatin gue. Ini yang dinamakan pandangan bertepuk sebelah tangan. Gue kemudian coba PDKT. PanDa KenTut. Tapi pada akhirnya, hati gue kembali patah. Hati gue kini tinggal seperempat. Dia nggak ngerespon gue. Gue dikacangin. Kayak hape nggak ada sinyal selama dua puluh tahun.
                Gue kemudian membiarkan hati gue kosong untuk sementara. Disaat gue patah hati itu, gue juga lagi deket sama temen gue. Kedekatan kami bisa dibilang sangat instant. Karena tak butuh waktu lama. Hanya gara-gara sering ngoceh dan ketawa bareng, kita deket. Dan gue gak berharap jadi kembar dempet sama dia. Gue diem-diem naksir. Ya dikit sih. Toh dia kan udah punya gandengan. Kalo misalnya gue maksa, malah bikin rancu. Sekarang lo banyangin. Ada truk gandeng. Mereka kan udah gandengan. Terus ada truk lagi single. Dia kemudian pengen nggandeng gandengan nya truk gandeng tadi (Duh. Ribet ya.). Gandengan cuman satu. Nggak mungkin lo maksa kan buat gandengan. Kalo lo paksa, lo terpaksa kudu berantem sama yang nggandeng gandengan itu lebih dulu. Bonyok. Perih. Merah. Biru. Gigi copot semua. Gue gak mau. Yaudah. Gue akhirnya secara damai mundur. Toh gue kan yang dateng tiba-tiba. Nggak etis kalo tiba-tiba ngerebut. Gue mah punya hati. Meski tinggal seperempat. Gue akan jaga bener hati gue yang tinggal seperempat ini.
                Ribet yang berikutnya adalah ketika gue harus menyimpulkan tulisan gue ini. Gue gak tau apa kesimpulan dari tulisan gue ini. Toh semuanya pengalaman gue. Bentar mikir dulu…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
                Oke gue udah dapet kesimpulannya. Jadi, gimana proses sekolah lo, seberat apapun sekolah lo, dan sebanyak apapun tugas sekolah lo, nikmatin aja. Emang ribet tapi itu melatih lo untuk idup. Sekolah adalah miniatur kehidupan lo. Jangan lari. Ibarat benang kusut, kalo lo telaten ngelurusin, ntar benang itu bakal lurus juga. Sama kayak idup lo yang ribet tadi. Kalo lo jalani idup lo dengan kesabaran dan ketulusan, idup lo bakal mulus kok. Percaya sama tuhan deh. Jadi pada intinya keribetan itu bisa lurus kalo lo mau untuk membuatnya lurus. Kuncinya satu. Niat.!

Gue pengen jadi Seniman (Pengen doang) (Tapi boong)



               Sebenernya gue pengen banget jadi seniman. Karena gue ngerasa kalo gue punya jiwa seni yang tinggi. Tapi sayang, orang-orang disekitar gue, mengira gue sakit jiwa. Kata nya tampang gue nggak ada seni-seninya sama sekali. Justru tampang gue ini tercipta setelah terciprat air seni. (-_-“)
                Gue hobi banget nyanyi. Dari kecil. Lagu apapun gue nyanyiin. Bahkan lagu jazz yang cuman melodi doang, gue nyanyiin. Tapi sayang, orang-orang terdekat gue melarang gue bernyanyi. Kata mereka, suara gue membuat jumlah korba tewas akibat serangan jantung meningkat. Nah, hubungannya sama gue apa. Setelah diselidiki, ternyata suara gue itu berfrekuensi 7000 Db. Lebih dari suara 1000 ikan paus. Tak heran jika banyak yang tewas.
                Namun gue tak menyerah. Gue coba mengurangi frekuensi decibel gue. Dan berhasil. Suara gue jadi lebih alami, lebih menenangkan, lebih merdu. (Opini subjektif.). Gue kepingin punya band. Band yang alirannya lain dari pada yang lain. Yaitu, Metal Melow Pop Elektronika koplo. Keren kan. Tapi sayang nggak ada yang mau gabung sama gue. Alasanya simpel, lo pasti akan dilemparin tombak kalo tampil.
                Gue coba untuk solo carrier. Gue kan ngefans berat sama kakak gue. Bruno Mars. Gue pengen kayak dia. Bikin lagu sendiri, produserin sendiri, hingga nyanyi sendiri (Ya iyalah, namanya juga solo carrier.!). Gue coba nyanyi di kamar mandi. Hasilnya bisa ditebak, pintu kamar mandi gue langsung di gedor-gedor dari luar oleh mama. Gue nyanyi dikamar. Gue nyanyi penuh penghayatan. Tapi mama nggak terima. Gue di gampar. Alasannya, Bokap gue lagi ngaji di kamar sebelah. Gue manggut-manggut. Gue pun nyanyi di loteng. Nyanyi dengan bebas tanpa ada penghalang. Dan sejak saat itu, gue sering nyanyi disana. Dan sejak saat itu juga, banyak bangkai tikus yang berada di loteng.
               Gue pasrah. Tampaknya gue nggak bakat jadi seniman. Terutama nyanyi. Gue nggak patah arang. Tapi patah hati. :3.  Gue coba nggambar. Wih, ternyata hasil gambar gue bagus, keren, mempesona (Opini subjektif). Tapi begitu mama gue liat, beliau langsung marah-marah.
                “Kamu nggambar apa itu.? Nggambar jorok ya.? Ah iya jorok.! Item-item gitu.”
                Lalu gue digampar ratusan kali. Apa salah ku mama.? T.T
                Gue akhirnya berlatih nggambar diam-diam. Dari garis satu ke garis lainnya. Gue sangat teliti dan serius. Agar gambar gue ini jadi master piece. Dan setelah jadi gue bangga setengah mati. Akhirnya gue bisa bikin gambar, Segitiga sama sisi.! Yeah..  Oh yeah..!
                Semakin gue berlatih, semakin luwes tangan gue. Bahkan saking luwesnya, tangan gue bisa molor sampe kemana-mana. Mirip Monkey D’Luffy. Suatu tokoh karakter serial komik one piece. Gue akhirnya bisa nggambar sebuah objek. Objek batu yang sangat mirip. Jika dilihat dari jauh. Semakin lama gue bisa nggambar seratus batu yang lihat dari jauh. Keren kan. Gue.!
                Gue pun melaju ketahap berikutnya. Menggambar wajah. Dengan pengalaman menggambar batu yang gue punya, gue menggambar wajah pertama gue. Sekitar setengah jam gambar wajah itu jadi. Wajah tanpa panca indra. Yap, wajah lonjong dengan rambut. Muka rata. Gue kemudian pamerin ke mama. Reaksi mama sungguh mengejutkan. Mama nangis. Gue terharu. Gue kira mama bangga sama gue yang udah bisa bikin gambar wajah yang excellent.
                “Bagus ya ma.?”
                Dengan masih terisak-isak mama menyahut. “Itu gambar wajah siapa.? Kasian. Abis kecelakaan ya di jalan tol.”
                Jrit.! Gue kira mama bangga sama gue. Ternyata nyela juga. Ah gue langsung ngambek, meninggalkan mama yang sedang nangis terisak-isak. Gue lari dari rumah. Bener-bener lari. Ketika gue berlari, Marshanda ngejar gue. Dia berkata.
                “Plis jangan pergi. Jangan ninggalin aku. Aku nggak tahan sendirian. Ntar kalo aku dimakan komodo gimana.?”
                Aku menoleh. “Biarkan aku pergi. Mama tak menganggap gambarku bagus. Jika kamu dimakan komodo, tanyakan saja kepada rumput yang bergoyang.” Lalu aku melangkah pergi.
                Lalu Baim Wong ikut-ikutan mencegahku.
                “Jika kamu berani melangkah lagi, bisa aku pastikan kamu telah menghianati keluarga kita, Ilham.” Camera menfokuskan pada wajahnya.
                Gue nggak menoleh. “Maaf kan aku, aku harus pergi. Harus. Aku tak ingin lagi berada disini. Cukup sudah apa yang dilakukan mama kepada ku.”
                “Pergilah kau…Pergi dari hidupku. Bawalah semua rasa bersalahmu..” Sherina muncul tepat di depan gue. Gue shock. Dan secara reflek, gue lempar dia dengan sandal gue. Sebentar-sebentar. Sebenarnya ini apa sih.? Ada Marshanda. Ada Baim Wong, Ada Sherina. Telenofela macam apa ini.? Jelaskan kan pak sutradara.. Jelaskan..!
                Oke itu tadi khayalan akibat kepala gue kepentok tembok.
               Karena mama tak merestui gue nggambar, gue memilih jalur seni lain, Menulis. Yang satu ini mama sedikit merestui. Meski tak jarang juga gue dimarahin gara-gara keseringan nulis. Tapi bodo ah. Gue pokoknya mau nulis. Apa aja. Berita, Cerita, atau bahkan Cinta dihati kamu. Gue nulis kadang buat tempat curhat. Karena kadang nggak ada temen buat dicurhatin. Kadang juga buat menghibur gue. Karena di deket rumah gue nggak ada pasar malam. Jadi nggak ada hiburan. Tivi isinya acara joged mulu. Gue rematik dan encok. Jadi nggak tertarik. Kadang juga untuk membunuh waktu. Soalnya gue nulis tentang piso. Piso tajem, ambil tusuk kin ke jam dinding. Dan anda telah membunuh waktu. Sekaligus anda dicap kurang waras. Kadang juga nulis itu adalah luapan otak yang tak sempet diungkapkan .(Lah.? Sama curhat apa bedanya.?). Jelas beda. Kalo curhat itu bener-bener curhat. Galau, marah, sedih. Kalau luapan otak itu bisa , kalo gue lagi sepi, lagi pengen gila, lagi pengen nulis. Semuanya lagi pengen. Jadi muka gue emang Mupeng (Muka pengen).
                Menulis itu butuh referensi. Emang bener. Gue sering baca-baca jadinya. Emang gue selain suka sama cewek, gue juga suka baca. Apapun itu. Asalkan nggak baca mantra bunuh diri, gue baca pokoknya. Gue paling suka baca novel. Novel-novel comedy romance lah yang gue suka. Tapi, setiap ada kebahagian, pasti ada yang nggak bahagia. Yup, bokap gue melarang gue kebanyakan baca novel. Opininya selalu sama setiap waktu.
                “Mbok ya belajar dari pad abaca novel. Belajar sana. Atau papa bakar tuh novel.”
                Kejam ya. Novel yang nggak salah apa-apa mau dibakar. Iya kalo novel gue punya mukjijat kayak Nabi Ibrahim.AS yang kebal kalo dibakar. Gue akhirnya kalo baca novel suka sembunyi-sembunyi. Kadan kalo Bokap udah tidur, kadang dibawah kasur, kadang juga gue baca tanpa menyentuh bukunya. Hebatkan. Iyelah. Gue baca cuman judul bukunya. Judulnya kan gede.
                Karena kebanyakan baca novel, idup gue jadi kayak novel. Apa-apa gue hubungin dengan novel. Gue pernah baca novel tentang tanda-tanda cewek jatuh cinta sama cowok. Gue baca sampai tamat. Terus gue perhatiin ada cewek yang menunjukkan gejala yang sama. Gue kira ia jatuh cinta sama gue, Eh, ternyata dia jadian sama cowok lain. Miris. Sakit Hati. Bikin Epilepsi. Gue patah hati. Patah hati pun gue ngikutin novel. Di novel kan kalo patah hati kan nangis, nyorat-nyoret buku diary. Gue pun begitu. Bedanya kalo mereka nangis di kamar, gue nangis di kamar mandi, di loteng dan di dalam hati. Gue nggak punya buku diary. Jadi gue corat-coretnya di tembok. Jadi, kepala gue benjol-benjol akibat di smack down sama bokap gara-gara nyoretin tembok kamar rumah.
                Gue kalo udah gitu, gue butuh hiburan. Selain nulis, gue suka hibur diri gue dengan liat video stand up. Kebanyakan yang ada adegan panasnya. Iya, mereka stand up di tengah-tengah pemukiman yang sedang dilanda kebakaran. Mereka pun merangkap diri sebagai pemadam kebakaran. Stand up yang paling gue sering tonton adalah Raditya Dika. Menurut pendapat gue, kita berdua ini sama. Suka ngelucu, nulis, dan berpikiran aneh. Bedanya, tampang dia lumayan gue kagak. Ya sebelas tiga puluh lah. Setengah dua belas. Ada lagi, si Ge Pamungkas. Dia cukup hiperbolis. Juga merangkap Alay. Kadang juga napsunya nggak ketulungan. Mungkin dia harus di kebiri. Satu lagi yang gue suka itu Komeng. Dia emang bukan stand up comedian. Tapi yang penting dia bisa bikin gue ngakak.
                Stand up comedy itu membutuhkan yang namanya topeng. Bahasa gaulnya adalah Persona. Bukan pesona. Persona. Inget. Persona. Bukan pesona. Pesona itu but,,,Eh Persona, butuh sebuah penjiwaan. Kalo bisa menjiwai dengan benar, maka orang nggak akan tau lo itu aslinya seperti apa. Misal, Persona lo itu belagu. Lo tampil ya kudu belagu. Persona lo belagu tapi lo tampi bego, jangan salahkah gue jika lo nanti digampar satpol pp yang bĂȘte liat lo tampil. Persona itu kudu beda dari yang lain. Jangan kembar. Entar kalo kembar, bisa-bisa lo dikira adalah saudara kembar dempet yang terpisah karena kena samurainya Zorro. Pilihlah persona yang unik namun masuk akan. Mis, persona orang yang kalemnya kayak orang jogja. Lo tampil harus dengan kalem. Jangan lo tampil keasyikan terus emosi dan kesan kalemnya jadi brutal. Ntar orang-orang ngira lo, “Tuh dia kesurupan ya.?” “Kebanyakan nonton masih dunia lain kali” . Persona juga jangan rumit-rumit. Mis, persona Anak bego yang tiba-tiba brutal gara-gara ikut tawuran SMK lalu galau karena pacarnya ikut juga tawuran. Orang akan bingung, lo itu persona yang mana. Anak bego, Brutal, Anak SMK , Atau Pacarnya galau.
                Selain persona, penting juga materi. Jangan lo tampil modal persona doang. Dateng-dateng dengan persona bego tapi nggak bawa materi. Di lempar kursi sama penonton baru tau rasa. Untung kursi, coba lo dilempar mercusuak yang kemudian mendarat dengan penuh cinta di jidat lo, selama tiga tahun, lo bakal koma. Syukur-syukur koma. Kalo lo nelihat surga lebih cepat.?
                Materi itu yang penting simpel. Simpel tapi lo gali lebih dalam. Seperti terowongan bawah tanah, kalo lo gali lagi terus, maka lo akan menemukan jalan baru. Materi pun begitu, jika digali lebih dalam, maka akan berhubung dengan materi lainnya. Jadi semacam simbiosis tali menali. Jadi saling berhubungan. Hubungan gelap. :v
                Oke deh,gue kayaknya ngebacot terlalu jauh. Dari yang mbahas Gue jadi mbahas stand up comedy. Ini keluar dari konteks. Dan gue akui ini menyimpang. Harusnya gue dikenai pasal karena hal ini. Tapi gue sadar, gue adalah rakyat yang kebal hukum. Politisi aja ada yang kebal hukum kenapa gue yang selaku rakyat jelata nggak bisa kebal hukum. Jika pun gue nggak kebal hukum, gue bisa kebal dari piso. Gue bisa kok ikut debus. Terus mau apa lo.? Hah mau apa.? Mau apa.? Jawab Mas.. Jawab..!! Apa salahku sama kamu..? Bagaimana dengan anak yang ada dikandunganku.? Tega kamu mas.? Mulai sekarang aku akan pergi dari rumah ini. Tanpa alas kaki. Tanpa suami. Kamu jahad mass..Jahat…! Aku rapopo.. Aku Rapopo.. Aku rapopo..! (Lah.?) (-_-“) Sekian.
               

Short Story Mind @ copyright 2013. Diberdayakan oleh Blogger.
Blacy Smiley - Silly

Check

Jaringan Penulis Indonesia Moker

Riwayat Hidup

Foto saya
Gue adalah gue. Gue yakin jika gue akan jadi penulis. Kenapa..? Karena gue saat ini sedang menulis ini. Nggak percaya, liat aja tulisannnya. Follow @propariotik

Pengikut

Visit

Cerpenmu