Jawa Timur Language (Little freak)



                Jawa timur. Apa yang ada di pikiran lo ketika mendengar tentang Jawa Timur? Atau lebih tepatnya, gambaran apa yang lo dapet dari kata Jawa Timur? Gue yakin lo pasti bayangin yang aneh-aneh. Macem gambar Miyabi ato bintang bokep lain. Pake hijab tapi.
                Well, Jawa Timur merupakan suatu provinsi yang cukup luas. Ya, terdapat setidaknya lebih dari dua puluh lima kota besar yang mengisi provinsi tersebut. Jawa Timur memiliki Ibukota Provinsi Surabaya. Letaknya di punuk dari provisni Jawa Timur. Kota ini bersinggungan dengan laut yang memisahkan antara Surabaya dan Madura.
                Gue adalah orang Mojokerto yang lahir di Sidoarjo. Kedua kota ini merupakan anggota dari provinsi Jawa Timur. Ya, bisa disimpulkan kalo gue adalah orang Jawa Timur. Gue bisa bahasa jawa tulen, tau adat-adat jawa, pokoknya gue menguasai apapun yang berhubungan dengan jawa (Jujur, ini bohong.)
                Tentu lo semua bingung, “Kalo lo orang Jawa Timur, kenapa bisa pake ‘Lo-gue’? Kok nggak pake ‘Aku-kamu’? Atau ‘Saya- Dia’? Atau juga ‘Kulo-Sampeyan’? ”
                Oke akan gue jawab. Gue pake logat ‘Lo-Gue’ itu karena sebenernya efek nulis sama liatin stand up. Gue keseringan nulis cerita (Tapi jarang ada yang baca) yang pake dialek ‘Lo-gue’. Settingnya jarang gue pake kota-kota Jawa Timur. Gue selalu pake setting Jakarta.
                Stand up juga gitu. Banyak dari para komik yang pake dialek ‘Lo-gue’. Karena keseringan nonton, gue kena dipol-dipol induksian a.k.a ketularan. Jadi sekarang, kalo gue ngobrol sama temen gue yang bukan orang jawa, gue pake dialek ‘Lo-gue’. Biar dia ngerti juga nggak geli kalo gue ngomong. Dialek ‘aku-kamu’ cukup menggelikan bro..
                Oke. Ini sebenernya mau bahas apa yak? Bentar mikir dulu. (Dua puluh jam kemudian….)

                Ehem, jadi hari ini gue mau bahas tentang anehnya dialek jawa timuran. Yap, bahasa jawa. Tapi gue mau bahas bahasa jawanya orang Surabaya an dan sekitarnya.  Kenapa? Jawa itu luas broo..
                Orang Surabaya memiliki cirri khas sendiri ketika berbicara bahasa jawa. Seolah bahasa yang mereka gunakan, tidak sama seperti bahasa jawa yang digunakan kebanyakan orang. Bahasa jawa yang mereka gunakan itu lebih simple dan lebih aneh menurut orang jawa asli. Misal gini,
                “Pak, monggo diunjuk niku kopi ne pun. Mengko yen wis adem ora penak.”
                Contoh diatas adalah bahasa jawa yang dipakai kebanyakan orang. Jawa tengah dan Jawa timur yang mendekati jawa tengah. Kesannya   halus dan sopan. Berbeda dengan bahasa jawa yang dikembangkan oleh orang Surabaya. Contoh,
                “Pak, ndang diombe iko lho kopi ne. Nek adem engkok gak enak.”
                See, beda bukan. Kesan kalimat kedua ini lebih kasar dan lebih ‘Memaksa’. Berbeda dengan yang pertama tadi. Eh iya, lo yang bukan orang jawa pasti gak ngerti. Kira-kira artinya gini,
                “Ayah, silahkan diminum kopinya. Nanti kalo sudah dingin tidak enak.”
                Bahasa Jawa yang digunakan orang Surabaya memang rada kasar. Seperti contoh diatas. Belum lagi kalo udah menggunakan kata-kata sisipan. Iya, kata-kata sisipan yang berupa umpatan. Mis,
                “Ndang mangan kunu lho. Wes eroh lambung e loro jek kober ae gak mangan. Cuk tenan.!”
                Artinya itu gini,
                “Ayo makan. Sudah tau lambung nya sakit kok masih bisa aja nggak makan.”
                Pemakaian kata sisipan yang ada di belakang tadi (Cuk.red), itu menandakan kalo orang yang menyuruh makan sedang marah. Kata sisipan tadi bermakna seperti, ‘Bangsat’. Atau sejenis ‘kampret’. Mungkin juga ‘Anjing’. Tapi, pemakaian kata itu (Cuk.red), tidak selalu menandakan kalo orang itu marah. Contoh,
                “Ahahahahahaha… Ndas mu koyok pucuk e knalpot, Cuk.! Hahahahahaha..”
                Itu artinya gini,
                “Ahahahahahaha...Kepalamu seperti ujung knalpot.! Hahahahahahah.”
                Tau bedanya kan. Kata sisipan tadi hadir ketika dia melakukan canda tawa bersama teman ngobrolnya. Jadi pemakaian kata sisipan tadi (Cuk.red) tidak selalu pada saat keadaan marah.
                Lalu, ketika orang pengen menunjukan rasa kagumnya. Atau rmenujukkan ‘Sangat’. Kalo di bahasa jawanya orang Surabaya, ini akan terdengar rada aneh. Anehnya adalah, terdengar seperti orang alay yang sangat udik.
                “Wiihh…. Gedung e gaaauuuddddeee….”
                Artinya gini,
                “Waahh.. Gedungnya sangat besar.”
                Jelas terlihat alaynya bukan. Padahal hanya ingin menyatakan kekaguman semata. Tapi, seolah terlihat alay dan udik. Seperti orang kampung yang baru saja tiba di kota besar. Atau gue kasih contoh lagi gini,
                “Sumpah.! Emas e mau uuaaaakkehh..! Ngguuiiillapp..!”
                Artinya,               
                “Sumpah.! Emas tadi banyak sekali..! Penuh kemilau.!”
                Sangat alay bukan.
                Meskipun begitu, pemakaian bahasa jawa timuran Surabaya cenderung efektif. Tidak bertele-tele atau njilimet. Sehingga mudah dipahami. Tentu untuk orang Surabaya itu sendiri. Mis,
                “Aku tadi datang ke sini dengan menaiki bis. Di tengah jalan, bis mengalami mogok. Jadi akhirnya, aku telat untuk sampai di sini.”
                Sekarang di translate memakai bahasa jawa asli,
                “Kula niki mau badhe dateng meriki ngangge bis. Ndek embong mau, bis e pun mogok. Dadi, akhire, kula telat dateng meriki.”
                Kalo pake bahasa jawa Surabaya,
                “Aku mau rene ngebis. Nang embong, moro mogok. Yowes telat aku.”
                Efektif bukan. Hemat berapa huruf itu?
                Sepanjang apapun kalimat yang dibikin dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, di mata orang jawa timur, Surabaya khususnya, akan dianggap terlalu bertele-tele. Tak peduli itu kata-kata motivasi yang panjangnya gak ketulungan, orang jawa timur Surabaya akan senantiasa menyingkatnya. Tanpa mengubah artinya.
                “Kejarlah impian mu. Kejarlah seperti kau mengejar Matahari yang akan tenggelam. Jangan biarkan apapun menghalangimu. Tetap fokus dan selalu berdoa kepada tuhan agar kau berhasil. Jangan membunuh mimpi dengan sifat malas. Bangkit dan katakanlah ‘Aku adalah sang pemimpi’.”
                Mari kita simak dengan bahasa jawa Surabaya,
                “Uberen iku mimpi. Gausah aneh-aneh. Fokus karo opo sing mok tuju. Wes titik.”
               
                Jadi, pada dasarnya, penggunaan bahasa jawa adalah suatu bentuk efektivitas hidup. Selain memper-simple, juga menghindari kata-kata njelimet yang berputar-putar kayak tornado beku. Meski kadang cukup alay untuk menyatakan kegaguman atau ‘Banget’, namun memang tidak dapat dipungkiri jika bahasa ini adalah bahasa tersimple yang pernah ada. Sekian.

nb: Maaf, saya gak bermaksuk ngajarin ngomong jelek. Itu hanya contoh. J
                  

0 komentar:

Posting Komentar

Short Story Mind @ copyright 2013. Diberdayakan oleh Blogger.
Blacy Smiley - Silly

Check

Jaringan Penulis Indonesia Moker

Riwayat Hidup

Foto saya
Gue adalah gue. Gue yakin jika gue akan jadi penulis. Kenapa..? Karena gue saat ini sedang menulis ini. Nggak percaya, liat aja tulisannnya. Follow @propariotik

Pengikut

Visit

Cerpenmu