Gue pengen jadi Seniman (Pengen doang) (Tapi boong)



               Sebenernya gue pengen banget jadi seniman. Karena gue ngerasa kalo gue punya jiwa seni yang tinggi. Tapi sayang, orang-orang disekitar gue, mengira gue sakit jiwa. Kata nya tampang gue nggak ada seni-seninya sama sekali. Justru tampang gue ini tercipta setelah terciprat air seni. (-_-“)
                Gue hobi banget nyanyi. Dari kecil. Lagu apapun gue nyanyiin. Bahkan lagu jazz yang cuman melodi doang, gue nyanyiin. Tapi sayang, orang-orang terdekat gue melarang gue bernyanyi. Kata mereka, suara gue membuat jumlah korba tewas akibat serangan jantung meningkat. Nah, hubungannya sama gue apa. Setelah diselidiki, ternyata suara gue itu berfrekuensi 7000 Db. Lebih dari suara 1000 ikan paus. Tak heran jika banyak yang tewas.
                Namun gue tak menyerah. Gue coba mengurangi frekuensi decibel gue. Dan berhasil. Suara gue jadi lebih alami, lebih menenangkan, lebih merdu. (Opini subjektif.). Gue kepingin punya band. Band yang alirannya lain dari pada yang lain. Yaitu, Metal Melow Pop Elektronika koplo. Keren kan. Tapi sayang nggak ada yang mau gabung sama gue. Alasanya simpel, lo pasti akan dilemparin tombak kalo tampil.
                Gue coba untuk solo carrier. Gue kan ngefans berat sama kakak gue. Bruno Mars. Gue pengen kayak dia. Bikin lagu sendiri, produserin sendiri, hingga nyanyi sendiri (Ya iyalah, namanya juga solo carrier.!). Gue coba nyanyi di kamar mandi. Hasilnya bisa ditebak, pintu kamar mandi gue langsung di gedor-gedor dari luar oleh mama. Gue nyanyi dikamar. Gue nyanyi penuh penghayatan. Tapi mama nggak terima. Gue di gampar. Alasannya, Bokap gue lagi ngaji di kamar sebelah. Gue manggut-manggut. Gue pun nyanyi di loteng. Nyanyi dengan bebas tanpa ada penghalang. Dan sejak saat itu, gue sering nyanyi disana. Dan sejak saat itu juga, banyak bangkai tikus yang berada di loteng.
               Gue pasrah. Tampaknya gue nggak bakat jadi seniman. Terutama nyanyi. Gue nggak patah arang. Tapi patah hati. :3.  Gue coba nggambar. Wih, ternyata hasil gambar gue bagus, keren, mempesona (Opini subjektif). Tapi begitu mama gue liat, beliau langsung marah-marah.
                “Kamu nggambar apa itu.? Nggambar jorok ya.? Ah iya jorok.! Item-item gitu.”
                Lalu gue digampar ratusan kali. Apa salah ku mama.? T.T
                Gue akhirnya berlatih nggambar diam-diam. Dari garis satu ke garis lainnya. Gue sangat teliti dan serius. Agar gambar gue ini jadi master piece. Dan setelah jadi gue bangga setengah mati. Akhirnya gue bisa bikin gambar, Segitiga sama sisi.! Yeah..  Oh yeah..!
                Semakin gue berlatih, semakin luwes tangan gue. Bahkan saking luwesnya, tangan gue bisa molor sampe kemana-mana. Mirip Monkey D’Luffy. Suatu tokoh karakter serial komik one piece. Gue akhirnya bisa nggambar sebuah objek. Objek batu yang sangat mirip. Jika dilihat dari jauh. Semakin lama gue bisa nggambar seratus batu yang lihat dari jauh. Keren kan. Gue.!
                Gue pun melaju ketahap berikutnya. Menggambar wajah. Dengan pengalaman menggambar batu yang gue punya, gue menggambar wajah pertama gue. Sekitar setengah jam gambar wajah itu jadi. Wajah tanpa panca indra. Yap, wajah lonjong dengan rambut. Muka rata. Gue kemudian pamerin ke mama. Reaksi mama sungguh mengejutkan. Mama nangis. Gue terharu. Gue kira mama bangga sama gue yang udah bisa bikin gambar wajah yang excellent.
                “Bagus ya ma.?”
                Dengan masih terisak-isak mama menyahut. “Itu gambar wajah siapa.? Kasian. Abis kecelakaan ya di jalan tol.”
                Jrit.! Gue kira mama bangga sama gue. Ternyata nyela juga. Ah gue langsung ngambek, meninggalkan mama yang sedang nangis terisak-isak. Gue lari dari rumah. Bener-bener lari. Ketika gue berlari, Marshanda ngejar gue. Dia berkata.
                “Plis jangan pergi. Jangan ninggalin aku. Aku nggak tahan sendirian. Ntar kalo aku dimakan komodo gimana.?”
                Aku menoleh. “Biarkan aku pergi. Mama tak menganggap gambarku bagus. Jika kamu dimakan komodo, tanyakan saja kepada rumput yang bergoyang.” Lalu aku melangkah pergi.
                Lalu Baim Wong ikut-ikutan mencegahku.
                “Jika kamu berani melangkah lagi, bisa aku pastikan kamu telah menghianati keluarga kita, Ilham.” Camera menfokuskan pada wajahnya.
                Gue nggak menoleh. “Maaf kan aku, aku harus pergi. Harus. Aku tak ingin lagi berada disini. Cukup sudah apa yang dilakukan mama kepada ku.”
                “Pergilah kau…Pergi dari hidupku. Bawalah semua rasa bersalahmu..” Sherina muncul tepat di depan gue. Gue shock. Dan secara reflek, gue lempar dia dengan sandal gue. Sebentar-sebentar. Sebenarnya ini apa sih.? Ada Marshanda. Ada Baim Wong, Ada Sherina. Telenofela macam apa ini.? Jelaskan kan pak sutradara.. Jelaskan..!
                Oke itu tadi khayalan akibat kepala gue kepentok tembok.
               Karena mama tak merestui gue nggambar, gue memilih jalur seni lain, Menulis. Yang satu ini mama sedikit merestui. Meski tak jarang juga gue dimarahin gara-gara keseringan nulis. Tapi bodo ah. Gue pokoknya mau nulis. Apa aja. Berita, Cerita, atau bahkan Cinta dihati kamu. Gue nulis kadang buat tempat curhat. Karena kadang nggak ada temen buat dicurhatin. Kadang juga buat menghibur gue. Karena di deket rumah gue nggak ada pasar malam. Jadi nggak ada hiburan. Tivi isinya acara joged mulu. Gue rematik dan encok. Jadi nggak tertarik. Kadang juga untuk membunuh waktu. Soalnya gue nulis tentang piso. Piso tajem, ambil tusuk kin ke jam dinding. Dan anda telah membunuh waktu. Sekaligus anda dicap kurang waras. Kadang juga nulis itu adalah luapan otak yang tak sempet diungkapkan .(Lah.? Sama curhat apa bedanya.?). Jelas beda. Kalo curhat itu bener-bener curhat. Galau, marah, sedih. Kalau luapan otak itu bisa , kalo gue lagi sepi, lagi pengen gila, lagi pengen nulis. Semuanya lagi pengen. Jadi muka gue emang Mupeng (Muka pengen).
                Menulis itu butuh referensi. Emang bener. Gue sering baca-baca jadinya. Emang gue selain suka sama cewek, gue juga suka baca. Apapun itu. Asalkan nggak baca mantra bunuh diri, gue baca pokoknya. Gue paling suka baca novel. Novel-novel comedy romance lah yang gue suka. Tapi, setiap ada kebahagian, pasti ada yang nggak bahagia. Yup, bokap gue melarang gue kebanyakan baca novel. Opininya selalu sama setiap waktu.
                “Mbok ya belajar dari pad abaca novel. Belajar sana. Atau papa bakar tuh novel.”
                Kejam ya. Novel yang nggak salah apa-apa mau dibakar. Iya kalo novel gue punya mukjijat kayak Nabi Ibrahim.AS yang kebal kalo dibakar. Gue akhirnya kalo baca novel suka sembunyi-sembunyi. Kadan kalo Bokap udah tidur, kadang dibawah kasur, kadang juga gue baca tanpa menyentuh bukunya. Hebatkan. Iyelah. Gue baca cuman judul bukunya. Judulnya kan gede.
                Karena kebanyakan baca novel, idup gue jadi kayak novel. Apa-apa gue hubungin dengan novel. Gue pernah baca novel tentang tanda-tanda cewek jatuh cinta sama cowok. Gue baca sampai tamat. Terus gue perhatiin ada cewek yang menunjukkan gejala yang sama. Gue kira ia jatuh cinta sama gue, Eh, ternyata dia jadian sama cowok lain. Miris. Sakit Hati. Bikin Epilepsi. Gue patah hati. Patah hati pun gue ngikutin novel. Di novel kan kalo patah hati kan nangis, nyorat-nyoret buku diary. Gue pun begitu. Bedanya kalo mereka nangis di kamar, gue nangis di kamar mandi, di loteng dan di dalam hati. Gue nggak punya buku diary. Jadi gue corat-coretnya di tembok. Jadi, kepala gue benjol-benjol akibat di smack down sama bokap gara-gara nyoretin tembok kamar rumah.
                Gue kalo udah gitu, gue butuh hiburan. Selain nulis, gue suka hibur diri gue dengan liat video stand up. Kebanyakan yang ada adegan panasnya. Iya, mereka stand up di tengah-tengah pemukiman yang sedang dilanda kebakaran. Mereka pun merangkap diri sebagai pemadam kebakaran. Stand up yang paling gue sering tonton adalah Raditya Dika. Menurut pendapat gue, kita berdua ini sama. Suka ngelucu, nulis, dan berpikiran aneh. Bedanya, tampang dia lumayan gue kagak. Ya sebelas tiga puluh lah. Setengah dua belas. Ada lagi, si Ge Pamungkas. Dia cukup hiperbolis. Juga merangkap Alay. Kadang juga napsunya nggak ketulungan. Mungkin dia harus di kebiri. Satu lagi yang gue suka itu Komeng. Dia emang bukan stand up comedian. Tapi yang penting dia bisa bikin gue ngakak.
                Stand up comedy itu membutuhkan yang namanya topeng. Bahasa gaulnya adalah Persona. Bukan pesona. Persona. Inget. Persona. Bukan pesona. Pesona itu but,,,Eh Persona, butuh sebuah penjiwaan. Kalo bisa menjiwai dengan benar, maka orang nggak akan tau lo itu aslinya seperti apa. Misal, Persona lo itu belagu. Lo tampil ya kudu belagu. Persona lo belagu tapi lo tampi bego, jangan salahkah gue jika lo nanti digampar satpol pp yang bête liat lo tampil. Persona itu kudu beda dari yang lain. Jangan kembar. Entar kalo kembar, bisa-bisa lo dikira adalah saudara kembar dempet yang terpisah karena kena samurainya Zorro. Pilihlah persona yang unik namun masuk akan. Mis, persona orang yang kalemnya kayak orang jogja. Lo tampil harus dengan kalem. Jangan lo tampil keasyikan terus emosi dan kesan kalemnya jadi brutal. Ntar orang-orang ngira lo, “Tuh dia kesurupan ya.?” “Kebanyakan nonton masih dunia lain kali” . Persona juga jangan rumit-rumit. Mis, persona Anak bego yang tiba-tiba brutal gara-gara ikut tawuran SMK lalu galau karena pacarnya ikut juga tawuran. Orang akan bingung, lo itu persona yang mana. Anak bego, Brutal, Anak SMK , Atau Pacarnya galau.
                Selain persona, penting juga materi. Jangan lo tampil modal persona doang. Dateng-dateng dengan persona bego tapi nggak bawa materi. Di lempar kursi sama penonton baru tau rasa. Untung kursi, coba lo dilempar mercusuak yang kemudian mendarat dengan penuh cinta di jidat lo, selama tiga tahun, lo bakal koma. Syukur-syukur koma. Kalo lo nelihat surga lebih cepat.?
                Materi itu yang penting simpel. Simpel tapi lo gali lebih dalam. Seperti terowongan bawah tanah, kalo lo gali lagi terus, maka lo akan menemukan jalan baru. Materi pun begitu, jika digali lebih dalam, maka akan berhubung dengan materi lainnya. Jadi semacam simbiosis tali menali. Jadi saling berhubungan. Hubungan gelap. :v
                Oke deh,gue kayaknya ngebacot terlalu jauh. Dari yang mbahas Gue jadi mbahas stand up comedy. Ini keluar dari konteks. Dan gue akui ini menyimpang. Harusnya gue dikenai pasal karena hal ini. Tapi gue sadar, gue adalah rakyat yang kebal hukum. Politisi aja ada yang kebal hukum kenapa gue yang selaku rakyat jelata nggak bisa kebal hukum. Jika pun gue nggak kebal hukum, gue bisa kebal dari piso. Gue bisa kok ikut debus. Terus mau apa lo.? Hah mau apa.? Mau apa.? Jawab Mas.. Jawab..!! Apa salahku sama kamu..? Bagaimana dengan anak yang ada dikandunganku.? Tega kamu mas.? Mulai sekarang aku akan pergi dari rumah ini. Tanpa alas kaki. Tanpa suami. Kamu jahad mass..Jahat…! Aku rapopo.. Aku Rapopo.. Aku rapopo..! (Lah.?) (-_-“) Sekian.
               

0 komentar:

Posting Komentar

Short Story Mind @ copyright 2013. Diberdayakan oleh Blogger.
Blacy Smiley - Silly

Check

Jaringan Penulis Indonesia Moker

Riwayat Hidup

Foto saya
Gue adalah gue. Gue yakin jika gue akan jadi penulis. Kenapa..? Karena gue saat ini sedang menulis ini. Nggak percaya, liat aja tulisannnya. Follow @propariotik

Pengikut

Visit

Cerpenmu