Kribo (Kriting Ngebo(do))



                Alarm jam weker terus saja berbunyi. Namun, sang empunya malah masih enak-enakan tidur dengan pulasnya. Tak peduli dengan jam weker yang berteriak kepadanya. Jam weker itu masih saja belum menyerah. Hingga akhirnya usahanya membuahkan hasil.
           Sang empunya bangun dari tidurnya. Ia menguap sesekali, menggaruk-garuk kepalanya, dan kemudian bengong. Rambutnya yang tidak pernah dirapikan, terlihat semakin acak-aakan ketika ia bangun dari tidurnya.
            “Hancuk.! Berisik banget sih lo.” Umpatnya kepada Jam weker yang masih saja berdering kencang. “Bisa nggak lo diem.?!” Jam weker itu terus saja bernyanyi nyaring.
            Dia menatap Jam wekernya itu. “Lo nggak diem, gue bakal ngelempar lo ke tembok. Biar lo jadi gegar otak. Gimana.?” Ucapnya sambil menuding Jam wekernya. Kemudian Jam wekernya berhenti berdering. Kehabisan baterai. “Nah. Gitu dong. Jam pinter.” Ia lalu menghempaskan kembali tubuhnya ke atas kasurnya.
            Baru saja akan memejamkan mata, pintu kamar terasa seperti diketuk dari luar. Dia berdecak kesal.
            “Bo.. Kribo..! Bangun bo.. Lo nggak kuliah apa.?” Pintu masih diketuk dari luar. “Bo..Kribo..! Lo nggak kuliah apa.?” Kali ini pintu mulai digedor-gedor.
            “Siapa sih lo.?!” Teriaknya dari dalam. Dia memandang kesal kearah pintu kost nya itu.
            “Gue Rahmat bo.. Rahmat.!” Sahutnya dari luar pintu kamar. “Buka woi..!”
            Dengan malas, ia bangkit dari kasurnya. Ia berjalan dengan menyeret kakinya. Jalannya kini terlihat seperti zombie yang mengalami kram kaki.
            “Cuk.! Pagi-pagi ganggu orang tidur lo.! Berengsek.” Semprotnya begitu ia membuka pintu.. Rahmat hanya nyengir saja ketika disemprot.
            “Yee.. Udah jam segini molor mulu lo. Nggak kuliah lo emang.?” Rahmat merogoh-rogoh saku celananya. Berusaha mengambil rokok filternya. Ia mengambil satu kemudian menyalakannya.
            “Gue males.! Palingan ketemu dosen itu melulu.” Ia menguap dan menggaruk kepalanya yang diselimuti rambut kribo yang lebat. “Jam segini udah ngasep lo.?”
            “Asem mulut gue, Bo..!”
            “Ba bo ba bo.. Gue punya nama. Alex.! Camkan itu.!” Ia berkacak pinggang kepada Rahmat. Rahmat tak peduli. Malah ia terus mengisap batang rokoknya dengan santai.
            “Nama lo terlalu keren. Nggak pantes buat muka lo yang kayak dengkul sapi itu. Nama Kribo aja itu udah bagus buat lo.” Rahmat mengepulkan asap rokoknya, “Untung lo nggak gue panggil Brokoli item.”
            Alex menguap kembali. “Lo mau kemana pagi-pagi gini udah rapi.?”
            “Ya mau berangkat kuliah lah.! Lo kira gue mau ngapain lagi.?” Rahmat membuang punting rokoknya. Lalu ia mengambil lagi sebatang, dan menyalakannya.
            “Ya kali aja lo mau pedofilin anak orang.” Cibir Alex. Rahmat tak peduli. Ia malah asyik mengepulkan asap rokoknya. “Yaudah, lo berangkat sana kuliah. Kuliah yang baek.. Jangan bolos.!”
            “Gue ngajakin lo kuliah kampret.!” Rahmat menghisap rokoknya, “Lo udah bolos kuliah berapa hari heh.?”
            “Bentar kok. Palingan lima hari lebih.” Sahut Alex santai.
            “Hancuk.! Itu lama,Cuk.! Ampir seminggu.” Alex hanya meringis lucu. Tapi itu membuat Rahmat mual tak karuan. “Udah lo mandi sana..! Ayo kita kuliah.”
            “Gue nggak usah mandi deh. Langsung berangkat aja. Males.” Rahmat langsung melotot mendengar celoteh Alex barusan. “Kenapa lo.?”
            “Cuk.! Lo nggak mandi.? Lo sarap ato gila sih.? Tampilan kayak gini mau berangkat kuliah nggak mandi. Ngaca woi ngaca lo.!” Alex masih memandang Rahmat tak mengerti. Rahmat kemudian mendekat. Mengendus sesuatu. “Lo bau bangke nggak.?”
            Alex ikutan mengendus. Mirip Labrador yang lagi pilek. “Iya. Ada bau-bau nggak enak gitu. Bau apa ya kir-kira.”
            “ITU BAU ELO, CUK..! ELO BAU BANGKE.! MAKANYA CEPETAN MANDI SONO..!” Teriak Rahmat di telinga Alex. Sontak, seleruh tetangga kost Alex membuka pintu mendengar teriakan Rahmat tersebut.
            “Woi bangsat.! Masih pagi udah bengak-bengok.! Gue sambit gae silet ket weruh.” Pekik salah satu tetangga Alex. Suaranya berlogat Madura. “Jancuk tenan kowe..!”
            Rahmat hanya meringis mendengar teriakan tetangga Alex itu. Ia kemudian mengambil kembali sebatang rokok dari dalam saku celananya.
            “Jam berapa nih udah abis tiga batang.? Lo ngidam apa doyan sih.?” Tanya Alex ketika melihat Rahmat kembali menyalakan rokoknya.
            “Berisik lo.!” Tukas Rahmat. “Mandi sono.! Bau bangke lo udah meracuni dunia.”
            Alex kemudian masuk kembali ke dalam kamar kostnya. Ia mempersilahkan masuk Rahmat. Rahmat langsung menutup hidung begitu masuk ke kostnya Alex. Bau banget.! Ia hanya geleng-geleng kepala ketika melihat kondisi kamar Alex yang seperti kapal pecah. Miris.
            “Aduh..!” Keluh Alex. Terdengar Alex memukul lemarinya dengan keras.
            “Kenapa lo, Bo..?” Rahmat menghampiri Alex dengan panik.
            “Detergen gue abis..”
            “Lah.? Emang lo mau nyuci baju sambil mandi.? Nggak. Lo mandi-mandi aja. Gue tau lo bau bangke. Tapi lo sekarang mandi ya mandi aja. Gausah pake nyuci.”
            “Gue nggak lagi mau nyuci, Cuk.!”
            “Nah terus.? Buat apa lo nyari detergen.?”
            “Biasanya gue mandi pake detergen soalnya.” Jawab Alex dengan enteng yang membuat Rahmat ingin sekali menggorok leher Alex

            Kampus sudah tampak ramai oleh Mahasiswa. Banyak dari mereka yang berlalu lalang. Ada yang memang memiliki kepentingan. Ada pula yang emang sok sibuk. Alex dan Rahmat merupakan jenis yang kedua. Berlalu lalang karena sok sibuk.
            “Bolos aja ya, Mat..? Gue lagi males nih ketemu tuh dosen.” Ujar Alex sambil merogoh ponsel di saku celananya.
            “Cuk.! Lo udah bolos seminggu lebih. Masih mau bolos aja lo. Mau lo nggak lulus terus.?” Rahmat berusaha merapikan rambutnya. Sekaligus tebar pesona kepada adik kelas.
            “Kita kuliah di sini udah empat tahun. Temen-temen seangkatan kita udah pada lulus. Pada kerja. Pada punya bini. Sementara kita.? Gak lulus. Gak kerja. Gak punya bini. Boro-boro bini, pacar aja nggak punya.” Celeteh Rahmat yang kini mulai menggoda adik kelas dengan kedipan mata.
            “Gue punya kali pacar..” Sahut Alex.
            Rahmat berhenti berjalan. Ia melongo. Ditatapnya Alex dengan tidak percaya. “Lo punya pacar, Bo.?” Alex mengangguk tanpa dosa. “Kambing lo.! Gak bilang-bilang gue kalo udah punya.”
            “Ya namanya juga barusan jadian…” Alex menggaruk-garuk kepalanya. Lalu ia menguap dengan lebar.
            “Siapa, Bo namanya.?”
          “Gisela.” Ucap Alex datar. Rahmat langsung tersenyum-senyum nggak jelas. “Kenapa lo.? Otak lo konslet lagi.?”
            “Cieehh.. ciehh…Cieehhh… Kribo cieehh..!!” Rahmat kini mulai tampak tidak waras di mata Alex. Semuanya mulai memperhatikan mereka berdua. “Keterlaluan lo.! Ninggalin gue jomblo sendirian.”
            “Ya biar lah.! Lo lambat sih..” Mereka kini berjalan melewati tangga. Menuju lantai dua kampus. Kampus mereka ada di lantai tiga.
            “Lo PDKT nya gimana.? Anak nya baik nggak.?”
            “Ya PDKT aja. SKSD dulu.” Alex mengedarkan pandangan kesekitar, “Anaknya baik. Baik banget malah. Manis banget..”
            “Udah berapa kali lo ngedate sama dia.?”
            “Tiap hari gue ngedate ama dia.” Alex melambaikan tangan pada teman yang tadi menyapanya. Rahmat pun juga.
            “Jadi selama lo bolos, lo ngedate terus ama dia.?” Alex mengangguk. “Anjinng..! Menang terus lo ya..” Alex terkekeh geli.
            “Dia seksi nggak.?” Tanya Rahmat usil. Rahmat merogoh-rogoh sakunya kembali. Mencari ponselnya.
            “Banget.!” Alex kemudian berhenti di depan Mading kampus. “Tiap hari gue selalu ciumin dia.” Rahmat terhenyak. Matanya mendelik.
            “Serius lo.? Tiap hari.?” Alex mengangguk. “Bener-bener jaya idup lo.”. “Eh, dia kuliah di mana emang.? Anak sini juga.?”
            Alex menggeleng. “Dia itu di PAUD..”
            Rahmat mengerutkan keningnya. Alex kemudian lanjut berjalan ke lantai tiga. “Ngajar PAUD maksud lo.?”
            “Enggak. Dia itu di PAUD..”
            “Maksud lo.?”
            “Iya. Gisela. Anak umur 4 tahun yang ada di sebelah kost gue. Dia masih PAUD. Anaknya manis, lucu, nggemesin. Tiap hari gue cium pipinya. Dia juga kadang sering bilang kalo dia seksi.” Papar Alex. Rahmat langsung berhenti melangkah. “Kenapa lo.? Capek.?”
            “Mulai sekarang lo jangan ngomong sama gue lagi deh.” Rahmat menunduk. Alex menatapnya heran. Rahmat tampak lunglai.
            “Lo kenapa sih, Mat.? Ngomong yang enggak-enggak.”
            “Gue selama ini salah menduga lo.”
            “Maksud lo.?”
            “Gue nggak nyangka. Gue gak nyangkan KALO LO ITU PEDOFIL…! PEDOFIL.! CUK..! PEDOFIL LO..! ANJING JANTAN LO…!” Teriak Rahmat sekencang-kencannya. Untung lantai tiga termasuk sepi. Jadi tidak banyak orang yang mendengar teriakan Rahmat.
            “Gue tau lo itu raja koleksi video bokep. Gue tau lo itu sering ngepost foto bugil cewek di Facebook. Tapi pliss… Kenapa lo milih jadi PEDOFIL..?”
            “GUE GAK PEDOFIL CUK..!” Pekik Alex kesal. Rahmat dibuat diam oleh pekikan Alex tersebut.
            Rahmat kemudian berjalan mendekat kearah Alex. “Lo salah menafsirkan cerita gue tadi. Lo…”
            “Stoop..! Talk to my hand.!” Ujar Rahmat yang kemudian berlalu menuju kelasnya. Alex memandang Rahmat dengan bingung. Alex masih mematung di tempatnya tadi.
            “Hancuk.! Kenapa sih tuh anak.? Ah, bodo amat sama elu cuk.!” Alex geleng-geleng kepala. Ia segera bergegas menuju kelasnya. Di mana dosen yang paling ia benci sedang menunggunya di sana. Glek.!

               

0 komentar:

Posting Komentar

Short Story Mind @ copyright 2013. Diberdayakan oleh Blogger.
Blacy Smiley - Silly

Check

Jaringan Penulis Indonesia Moker

Riwayat Hidup

Foto saya
Gue adalah gue. Gue yakin jika gue akan jadi penulis. Kenapa..? Karena gue saat ini sedang menulis ini. Nggak percaya, liat aja tulisannnya. Follow @propariotik

Pengikut

Visit

Cerpenmu