Dibalik Anak Tunggal

Gue hari ini sebel banget sama ortu gue. Semua berawal dari dilarangnya gue untuk ikut acara seminar kepenulisan yang diselenggarakan oleh Diva Press, yang memiliki acara bernama Kampus Fiksi Roadshow. Gue masih inget apa kata Ayah, ketika gue minta diantar ke sana.

"Kamu ke sana pulangnya gimana? Jam tiga sudah nggak ada angkot. Kamu bakal kayak orang hilang di sana. Orang nggak punya kendaraan kok."

Dan gue, dengan berat hati merelakan acara tersebut tanpa kehadiran gue.

Setelah itu, gue ngerasa menjadi anak tunggal itu nggak enak. For Your Information, gue adalah anak tunggal. Gue nggak ngerasain bagaimana seorang Kakak melindungi adiknya, bagaimana seorang Adik bisa manja sama Kakaknya, dan Bagaimana penyelesaian rumus Integral pangkat dua? Oke, skip!

Kata orang, anak tunggal itu enak. Banyak dimanja, banyak diturutin kemauannya. Gue bilang, Ya! Tapi sebagian aja. Selebihnya, ortu akan lebih protektif kepada kita, layaknya Anjing herder yang ngelindungin majikannya. Apa-apa harus ijin orang tua dulu. Jika mereka tidak suka, mereka bakalan bilang,

"Udah, jangan mbangkang! Nurut sama orang tua! Ntar durhaka! Mama kutuk baru tau rasa!"

Secara tidak langsung, itu merusak mental kami sebagai anak tunggal.

Akibatnya, banyak dari anak tunggal yang menjadi 'Anak bawang' alias yang selalu jadi akal-akalan. Semisal mau diajak Hang Out.

"Ayo, kita main ke Mall. Nongkrong di Starbuck, yuk! Gue setengah delapan malem."
"Wah, sori, aku nggak bisa. Aku gak boleh pulang malem-malem sama Mama. Katanya, dia takut aku diculik."

Please, man. Kalo lo SD, masih wajar lo nggak boleh pulang malem. Ini lo udah kuliah, lo udah baligh, titit lo siap dipakai malah. Eh, kok jadi vulgar gini, ya? Oke skip.

Gue ngerasain sendiri jadi anak tunggal itu nggak enaknya gimana. Gue nggak boleh keluar malem-malem, mau kemana-mana harus ijin dulu, urusan kita mereka juga harus tau, bahkan mereka menawarkan diri untuk nganter kita kemana pun kita mau pergi.

"Ma, aku pergi dulu, ya. Assalamualaikum."
"Eh, tunggu! Biar dianterin Ayah."
"Nggak usah, Ma. Kan deket."
"Udah, biar Ayah yang nganter!" Nadanya mulai tinggi, membuat jantung gue mau meledak.
"Yaelah, Ma. Ini mau ke warung sebelah beli kopi!"

Namun, hal aneh justru terjadi pada gue. Gue kalo kemana-mana diharuskan sendiri. Bener gue bisa mandiri. Cuman, sewaktu mau berangkat,

"Kamu mainnya jangan jauh-jauh! Ntar diculik."

See? Ini lah mengapa Anak tunggal menjadi cupu dan cemen kayak gue. Lah? Oke, skip!

Keanehan berikutnya adalah, ketika gue lagi nyantai dan gabut. Gue pasti diomelin sama Mama.

"Kamu itu, mbok ya main sana sama temenmu. Tidur mulu kayak jenazah di ruang mayat!"
"Main sama siapa, Ma? Temenku belum pulang libur kuliah."
"Ya, sama si Jefry itu. Ajak dia main!"
"Tapi, dia kan masih SD kelas empat."
"Ya, terus? Masalah?"

Kebayang lo ajakin anak SD kelas empat nongkrong di warung kopi, terus lo ajak main kartu, taruhan, terus diajakin ngerokok. Pulang-pulang, bapaknya dia siap mancung elo.

Dan ketika gue main mulu, Mama akan selalu ngomel,

"Kerjaanmu main mulu. Mbok ya, belajar sana. Ngisi waktu luang dengan baca buku."

Gue disuruh main biar ada kerjaan, eh, pas keenakan main gue disuruh baca buku. Ntar, gue baca buku pasti diomelin lagi,

"Baca itu buku pelajaran! Kok, ya novel malahan. Punya Radit lagi. Itu kan novel becandaan yang nggak jelas itu."
"Kan yang penting baca, Ma."
"Ya, yang bermanfaat dong! Kayak buku Fisika gitu. Pokoknya yang ngitung-ngitung gitu. Biar otakmu ada nutrisinya."
"Ma, aku jurusan Biologi. Kenapa harus belajar Fisika?"
"Ya, ntarkan berguna buat ngitung, berapa jarak loncatan cicak ketika menangkap mangsa menggunakan gerakan parabola."

Sampai di sini, gue berasa pengen makan Kaporit.

Selain itu, kekekangan demi kekangan selalu gue dapatkan. Kalau mau pergi jauh aja, selalu ada alasan untuk menghalangi gue untuk berangkat. Hingga akhirnya gue batal ikut dan mengecewakan temen gue.

Kemudian muncul dipikiran gue, kenapa lo kok nggak bandel aja? Kayak menentang orang tua gitu.

Ini yang jadi masalah. Gue udah kedoktrin jika nentang orang tua adalah bencana. Jadi sebandel-bandelnya gue, gue nggak pernah nentang mereka. Sangat nggak lucu ketika gue bandel, gue disumpahin punya udel lima di perut. Gue bakal keseringan masuk angin dan perut gue baunya nggak enak.

Perkataan orang tua adalah sakral. Karena menurut dalil Al-Quran, ridho Allah berada pada Ridho orang tua. Akan tetapi, masak iya ortu kita musti campur tangan terus di hidup kita. Mau nikah, bakal dijodohin. Mau kerja, dipilihin tempat kerja. Mau ngasih nama anak, mereka yang ngusulin. Mau anak cewek atau cowok, mereka yang nentuin.

"Udah, kalian punya anak Cowok aja."
"Tapi kan, kita maunya cewek, Ma."
"Udah! Pokoknya cowok, atau mama sumpahin anak kalian cewek tapi berewokan!"

Gue mewakili anak tunggal ingin bersuara. Kita punya pilihan. Kita punya keinginan. Kami mohon, janganlah kalian mengekang kami. Kami tahu, kalian sayang pada kami. Terlalu sayang malah. Tapi, kami juga ingin hidup di jalan kami. Kami seperti ini bukannya mau durhaka, tapi kami punya hati. Kami punya tujuan. Kami sayang kalian. Biarkan anakmu ini berkarya melalui jalannya sendiri. Dukung kami, doakan kami. Tujuan kami cuman satu. Membahagiakan kalian, dengan cara kami sendiri.

1 komentar:

SMART-SENSASIONAL mengatakan...

plok...plok...plok..... selamat. anda layak jd anak tunggal

Posting Komentar

Short Story Mind @ copyright 2013. Diberdayakan oleh Blogger.
Blacy Smiley - Silly

Check

Jaringan Penulis Indonesia Moker

Riwayat Hidup

Foto saya
Gue adalah gue. Gue yakin jika gue akan jadi penulis. Kenapa..? Karena gue saat ini sedang menulis ini. Nggak percaya, liat aja tulisannnya. Follow @propariotik

Pengikut

Visit

Cerpenmu