Menjadi Dewasa, Kepala Dua, Bahagia?
Menjadi dewasa itu menyerupai pisau yang bermata dua. Terkadang dia menyenangkan, terkadang pula, itu menyakitkan. Menjadi dewasa merupakan bagian dari kehidupan yang pasti dilalui oleh semua orang, kecuali orang itu kurang beruntung pada nasibnya.
Saat gue kecil, rumah nenek adalah tempat berkumpulnya seluruh keluarga besar. Terutama saat hari raya tiba. Banyak makanan manis, jelly, minuman, dan yang paling penting adalah angpau dari para tetua. Dahulu, beberapa anak kecil suka mengadakan kompetisi "Siapa yang paling banyak" uang angpaonya. Tentu pada jaman dahulu, ini adalah kompetisi yang sangat menarik. Terlebih, elo bisa menjadi jutawan sesaat. Meskipun, tidak sampai satu juta, sih.
Semakin umurmu muda, maka semakin banyaklah pundi-pundi angpao yang engkau dapat. Semakin tua dirimu, angpao mu hanya berupa kricikan uang logam! Dan itu benar adanya.
Ini mau cerita masalah usia, kok malah bahas angpao hari raya? Selow bos, sabar.
Pertambahan usia yang seharusnya lama, justru dirasakan sangatlah cepat. Barusan saja kemarin berusia tujuh tahun, kini sudah menginjak kepala dua. Hanya karena gue mengedipkan mata, tiba-tiba jakun gue, brewok atas sama bawah gue, dan rambut kaki gue tumbuh tak terkendali. Kini fisik gue seperti om-om yang gemar main telolet.
Ketika lo kecil, seperti diatas, saat kerumah nenek elo akan disambut layaknya pangeran yang baru lahir. Candaan dan beberapa cubitan gemas akan terus-menerus menyerangmu. Baik dari tante, paman, bibi, om, pakde, budhe, bulek, palik, dan kakek nenek. Perlahan engkau beranjak dewasa, cubitan-cubitan itu mulai memeudar. Karena mereka tahu, dengan wajah brewok gue kini, akan terasa menggelikan bagi mereka jika masih memperlakukan gue seperti itu.
Perbedaan itu makin terasa nyata ketika perlahan usia menginjak kepala dua. Bersiap menjadi dewasa, memandang dunia dengan persepsi kita masing-masing. Gue nggak pernah mengira, jika perawalan dari menjadi dewasa akan terasa "Berat" seperti ini.
Dulu, ketika ke rumah nenek, pasti akan dimanja dengan kata-kata seperti ini
"Uhh.. cucu nenek udah dateng. Mau makan apa? Ayam goreng? Atau Empal? Kamu harus makan supaya nggak kurus!"
Nyatanya ketika gue dewasa
"Makan terus! Kamu kuliah ngapain aja? Kok jadi gendutan? Itu perutmu meluber kaya mayonaise pada botol! Sana, gerak sana! Kurusin perutmu!"
Sejujurnya ini adalah dilema bagi gue. Saat gue kecil, gue selalu diberi doktrin untuk selalu "Makan" agar gue gendutan. Orang mengira, ketika anak kecil itu gendutan, maka mereka akan terlihat menggemaskan dengan sangat. Ketika gue sudah terpengaruh akan doktrin itu, kini gue di maki. Katanya gendut itu buruk. Dari sini gue dapet satu kesimpulan "Orang dewasa gak boleh gendut!"
Ketika gue dirumah nenek, ketika gue datang maka akan selalu ada yang namanya pertanyaan-pertanyaan nol. Atau baik buat dijawab, tapi kalau tidak dijawab ya tak mengapa. Akan tetapi ketika tidak dijawab, maka kualitas pertanyaan tersebut akan berubah menjadi "Menohok". Dampaknya, ketika kita tidur kita akan selalu kepikiran. Dan gue adalah dari itu.
Ketika kecil, saat kerumah nenek, gue akan selalu ditanyain begini
"Udah kelas berapa?"
"Rangking berapa di kelas?"
"Kok kurusan? Jarang makan, ya dirumah?"
"Mau makan apa?"
"Nanti kalau dapat angpao, mau beli apa lagi?
"Pasti kangen sama kambing yang dibelakang rumah, ya?"
#OhChilhood
Ketika gue menginjak kepala dua, pertanyaan akan ter-upgrade dengan sendirinya. Kualitasnya pun "Menohok"
"Udah punya pacar?"
"Semester berapa? Kapan mau lulus?"
"Kuliah di mana?"
"Mau kerja di mana?"
"Lagi deket sama cewek ya?"
"Kapan mau nikah?"
#Anjing
Itu pertanyaan, belum lagi pernyataan dan masukan-masukan mereka
"Kamu nikah sama ini aja, nih. Kayaknya cocok deh"
"Kerja di bagian ini aja, kan jurusan mu begitu-begitu kan. Kayaknya cocok deh"
"Cepetan lulus, kerja, trus S2. Kayaknya cocok deh."
"Trus ntar nikah! Kayak cocok deh."
Cocok ndasmu?!
Menjadi dewasa, otomatis akan memenjarakan hidup. Hidup sesuai aturan dan tatanan untuk level yang lebih baik. Saat kecil, kita tidak pernah memikirkan konsekuensi apapun dalam hidup. Kita hidup bebas, minta ini itu, dan semua dituruti oleh orang tua kita (Mungkin). Beranjak dewasa, perlahan kita mulai tak bisa bergerak bebas. Kita diajari oleh ini dan itu sebagai bekal hidup. Dan perlahan, kita mengerti akan satu hal.
Kita akan seperti itu!
Yah, kita akan menjadi dewasa seperti orang tua kita. Memiliki buah hati dan membesarkan mereka, untuk menjadi manusia berikutnya yang menggantikan kita. Dan dia akan hidup sama seperti manusia lain, hanya dengan perbedaan takdir dan nasib.
Mengetahui hal itu, membuat gue jadi sedikit kesal. Perubahan yang terjadi dan pertambahan usia, kita sama sekali tidak dapat mengulangi hal itu menjadi sedia kala. Semua berkembang menjadi dewasa, menua, dan tiada. Gue mendapat satu kesimpulan inti dari sini.
Menjadi dewasa adalah proses dari dihidupi menjadi menghidupi. Menghidupi diri sendiri, menghidupi pasangan, dan menghidupi calon penerus kita. Semuanya selalu seperti itu. Rotasi kehidupan, yang hanya akan berakhir jika sudah ditentukan oleh sang pencipta.
Apakah bahagia? Yah, menuju sih. Karena gue menganggap definisi dasar dari bahagia itu abstrak. Ada yang bahagia karena main pokemon go doang, ada bahagia yang jalan sama pacar meskipun itu pacarnya temen, dan adapun bahagia-bahagia yang lainnya. Jadi, apa yang bisa kita lakukan selain terus menyukuri akan hidup kita?
01.17
|
Label:
Mulai Bener
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Short Story Mind @ copyright 2013. Diberdayakan oleh Blogger.
Check
Riwayat Hidup
- Propariotik
- Gue adalah gue. Gue yakin jika gue akan jadi penulis. Kenapa..? Karena gue saat ini sedang menulis ini. Nggak percaya, liat aja tulisannnya. Follow @propariotik
1 komentar:
ada yang bahagia dengan om telolet om.
intinya semakin bertambahnya kepala umur semakin bertambah pula dong bobot pertanyaannya.
Posting Komentar