Experimen Cerpen Serius #1
Matahari
nyaris tenggelam sore itu. Sinarnya yang jingga, seolah hendak meredup di telan
Bumi.
Lelaki itu masih
diam di sana. Duduk mematung, bersandar pada sebuah pohon tua yang mungkin
sudah berusia ratusan tahun. Kerutan
epidermis pohon yang cokalt tua, menjelaskan semuanya.
Pandangannya masih sama, menatap gelombang
laut yang berlarian. Matanya tak berkedip sama sekali. Terpaku pada satu titik yang menyedot sadarnya.
Tanpa
ia sadari, seorang gadis berambut
panjang senantiasa mengawasinya. Ia berdiri tak jauh
dari lelaki itu duduk. Bajunya berkibar, terkena hembusan angin yang cukup
kencang. Sesekali ia menyibakkan
rambutnya yang morat-marit terkena angin yang berhembus nakal.
Gadis
itu berjalan mendekat perlahan.
Langkahnya sengaja ia hentakan agar dia mengetahui kehadirannya. Tapi lelaki itu masih belum menyadari kehadiran gadis itu. Ketika jarak
mereka hanya satu langkah, barulah lelaki itu menyadarinya. Tapi, ia tak
menoleh kearah gadis itu. Hanya matanya yang bergerak sesaat melirik sekilas.
“Mau
apa, kamu?” tanyanya dingin.
Gadis
itu masih diam mematung. Pandangannya menunduk, membiarkan angin
memporak-porandakan rambutnya.
“Aku…”
Suaranya gemetar. Entah gugup atau memang kedinginan terkena angin pantai yang
kencang itu. “Maaf..,” katanya lirih.
Lelaki
itu masih belum juga menoleh. Tatapannya masih lurus, menatap gelombang laut.
“Aku
tidak sengaja melakukannya.,” Gadis itu hendak melangkahkan kakinya. Namun, lelaki itu keburu menoleh padanya.
“Mudah
sekali ya dirimu berbicara seperti itu?” ujarnya dengan kesal. Tatapannya
tajam. Setajam silet.
“Kamu
pikir perasaanku itu apa? Seenaknya kamu permainkan hatiku seperti bola
takraw,” ketusnya. Gadis itu menunduk. Air matanya mulai menetes.
“Percuma
kamu nangis. Semuanya sudah selesai.”
“Ma..
Maaf..,” Isakan gadis itu makin menjadi. Tubuhnya berguncang kecil
“Kamu
pikir maaf saja cukup?!” Bentak lelaki itu. “Sadar nggak sih? Berapa yang udah aku habiskan
untuk acara pernikahan kita? Dan kamu dengan mudahnya menggagalkan acara itu?
Nice!”
Lelaki
itu berdiri tepat di depan si Gadis yang masih saja menunduk, meratapi apa yang baru saja ia lakukan kepada lelaki itu.
“Sudahlah.
Lupakan tentang semuanya. Lupakan tentang kita. Lupakan tentang apa yang pernah
terjadi di antara kita,” kata lelaki itu sambil bangkit berdiri. Ia kemudian berbalik,
memunggungi si gadis. “Masa yang indah ketika ketika bersama,” katanya sambil
berjalan menjauh. “Terima kasih.”
Gadis
itu hanya bisa menatap punggung lelaki itu pergi menjauh. Ia menyesali apa yang
terjadi. Memang dia yang salah. Dia menggagalkan pernikahan antara dia dan
lelaki itu. Alasannya, dia telah hamil di luar nikah.
“Bodoh! Kamu bodoh! Kamu menyia-nyiakan lelaki
yang tulus mencintai kamu! Bodoh!” jerit gadis itu di dalam hati.
Namun,
waktu tak dapat di ulang. Waktu terus berjalan, memakan peristiwa itu. Gadis
itu hanya bisa menyesali apa yang terjadi. Air matanya, menjadi bukti
semenyesal apa dirinya saat ini. Yah, manusia hanya bisa menyesali pada
akhrinya. Itulah kehidupan.
#TumbenBikinCerpenSerius
07.49
|
Label:
Cerpen
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Short Story Mind @ copyright 2013. Diberdayakan oleh Blogger.
Check
Riwayat Hidup
- Propariotik
- Gue adalah gue. Gue yakin jika gue akan jadi penulis. Kenapa..? Karena gue saat ini sedang menulis ini. Nggak percaya, liat aja tulisannnya. Follow @propariotik
0 komentar:
Posting Komentar