Avance Temps
“Tidak ada yang dapat mengulang waktu.
Sekalipun kau berusaha memohon kepada sang pencipta, waktu yang berlalu tidak
akan pernah bermanuver untuk kembali. Itulah kodratnya”
Aroma masakan bunda telah tercium
sampai kamarku yang berada di lantai dua. Suara-suara sesuatu sedang tergoreng
terdengar nyaring di telinga. Ku telah kembali liurku cepat-cepat karena jika
tidak pasti dia akan menetes. Kurasa, bunda sedang masak enak malam ini. Namun,
aku tetap tidak akan turun kamar sebagai bentuk protesku kepada bunda.
“Semuanya, segera turun ke ruang
makan!!” teriak Bunda dari bawah.
Aku berusaha tak menggubris
teriakan-teriakan Bunda saat memanggil anggota keluarga yang lain. Namun,
kakiku terus ingin bergerak. Terlebih, aroma masakan Bunda yang sedari tadi
terus berputar dikamarku. Ah, rasanya aksi gondokku kali ini sia-sia.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
“Hattan, turun. Waktunya makan
malam.”
Aku diam tidak merespon. Rasa
gondokku kian membuncah ketika Bunda berjalan mendekat, lalu duduk di sampingku
diatas kasur. Kenapa Bunda bisa masuk ke dalam kamarku? Ah, sial. Rupanya tadi
aku lupa untuk mengunci pintu. Kampret!
“Bunda sudah masakin makanan favorit
kamu, lho. Ayo, makan malam,” kata Bunda lembut sambil terus menggoyangkan
tubuhku.
“Males makan, Bun. Gak laper,”
kataku sedikit ketus. Tapi malah terdengar seperti kuda keselek.
“Udah, jangan bohong sama Bunda.
Bunda tahu kamu itu laper banget. Dari tadi siang kamu belom makan, kan?”
“Bunda sotoy,” ketusku. Tapi memang
benar kata Bunda. Dari tadi siang aku belum melahap apapun masuk ke dalam
perut. Kecuali sepotong cilok yang aku minta dari Rehan saat main tadi.
Perutku kemudian berbunyi. Sial, dia
berbunyi di saat yang tidak tepat.
“Tuh kan. Perut kamu bilang kalo dia
lapar. Kamu bisa aja bohong ke Bunda, tapi perut tidak bisa bohong.”
Dengan sedikit memaksa, Bunda
menarikku untuk berdiri mengikutinya menuju meja makan. Aku ingin sekali
melawan. Namun, apa dayaku. Seharian aku belum makan, Jadi, terpaksalah aku
menyerah.
Di meja makan terlihat sudah siap
semua. Mulai dari lauk, sayur, peralatan makan, es jeruk, paha ayam, paha Kak
Fero.. Oke, untuk yang terakhir jangan dihiraukan.
“Kenapa, Tan? Biasanya kalo liat
paha ayam kamu jadi semangat makan. Kenapa sekarang enggak?” Kak Fero bertanya
sembari menggerling jahil padaku.
Aku tidak memperdulikan sembari
tanganku mengambil nasi dan kentang goreng. Aku tidak tahu seberapa banyak nasi
dan kentang yang kuambil sampai Bunda berkata.
“Ya Ampun Hattan! Kamu itu mau jadi
kuli?!”
Buru-buru aku mengurangi porsi
nasiku. Paha Ayam yang mulus berada di dekatku buru-buru aku sikat sebelum Kak
Fero membidiknya terlebih dulu. Dengan perasaan masih gondok terhadap Bunda,
aku makan dengan lahap.
“Bukan maksud Bunda buat ngelarang
kamu ikut, Tan,” kata Bunda sambil menyendok supnya. “Tapi, kamu juga harus
mikir, selama di sana kamu mau ngapain? Kalo Kak Vian jelas dia kuliah. Lha,
kamu mau ngapain?”
“Aku akan menghabiskan waktuku di
kebun paman Jeff. Juga, Lorey masih belum sekolah. Jadi aku bisa bermain
dengannya.”
“Lalu, sekolahmu gimana? Bunda nggak
mau kalo anak Bunda nggak sekolah!”
“Engg... Mungkin paman..”
“Paman Jeff tentu tidak memiliki
biaya untuk membiayai sekolahmu di sana. Jika kamu di sana sekolah, tentu Lorey
juga ikut sekolah. Dan paman Jeff tidak memiliki biaya sebanyak itu, Hattan.”
Seketika aku kalah dengan adu
argumen dengan Bunda. Bunda benar, paman Jeff bukanlah seorang yang begitu kaya
dengan harta. Dia hanya seorang petani ladang biasa. Ladangnya pun ia tanami
dengan tanaman musiman yang dapat laku di pasaran. Tapi, perlu diketahui ladang
paman Jeff berkisar 700 hektar.
“Maaf Bunda,” ucapku. Ayunan
sendokan nasiku mulai melemah. Seketika aku merasa kenyang. Ya, karena di
piring sudah tidak bersisa apa-apa. “Maaf kalo Hattan tadi egois. Hattan cuma
pengen ikut Kak Vian ke Belanda biar bisa jalan-jalan bareng di sana. Hattan
nggak mikir sampai sejauh itu.”
Mendengar perkataanku Bunda hanya
tersenyum.Ayah juga. Sementara Kak Fero malah sibuk mengigit dada ayam.
Bunyi guntur mulai terdengar, Tapi
anehnya tiak ada kilat yang menyertai. Tiga kali bunyi keras guntur terdengar
sampai-sampai meja ikut bergetar akibat seluruh rumah mengalami resonansi
dengan tanah.
Hawa tidak enak mulai aku rasakan.
Telepon tiba-tiba berbunyi. Ingin
saat itu aku angkat, namun Bunda melarang. Prinsip Bunda adalah ketika makan
malam, tidak ada yang boleh mengganggu siapapun itu. Baik tamu, telepon atau
yang lainnya. Teman-teman Bunda dan Ayah telah mnegetahui hal tersebut.
Termaasuk mitra kerja ayah. Semenit berdering, telepon itu akhirnya diam.
Tak selang beberapa lama, telepon
itu kembali berdering.
“Diangkat aja, Bun. Ganggu banget
lho kalo terus dering,” ujar Kak Fero.
“Prinsip, Fero, Prinsip!” ketus
Bunda. Kak Fero akhirnya diam.
Telepon tersebut kembali berdering.
Karena jengkel, Bunda bangkit dan mengangkat telepon tersebut.
“Heh! Gak tau waktu ya kalau sedang
telepon?!” bentak Bunda. Aku saja yang tidak dibentak terasa merinding. Apalagi
yang dibentak.
“Maaf jika mengganggu waktunya,Bu.
Tapi kami dari pihak kepolisian ingin menyampaikan sesuatu kepada Ibu
Wilkinson.”
Raut muka Bunda yang tadinya marah
berubah menjadi bertanya-tanya. Ada apa sampai polisi meneleponnya. Bunda
mengubah mode telepon menjado Loudsepaker.
“Jadi, kami pihak kepolisian New
York menginformasikan bahwa saudara Revian Wilkinson telah menjadi korban dari
kecelakaan Netherlands Airlines di laut arktik. Silahkan ibu Wilkinson untuk
datang ke kantor kami.”
Bunda melepaskan gagang telepon yang
langsung meluncur ke lantai. Ayah langsung berlari dan menopang tubuh Bunda
yang lemah dan tertarik akan gravitasi bumi. Kak Fero meloncat sampai sendok
dan garpunya jatuh ke lantai dan membuat beberapa nasi dari piringnya mengotori
meja. Sementara diriku, malah tidak mengerti situasi apa yang sedang terjadi
saat ini.
“Bunda kenapa, Yah?” tanyaku polos.
Ayah tak menjawab. Beliau hanya sibuk membopong Bunda ke dalam mobil. Sementara
Kak Fero malah langsung menggandengku menuju mobil. Kami menuju kantor polisi.
ϻ
“Ini tidak mungkin! Gak mungkin! Kak Vian
masih hidup! Kak Vian belum matii..!!” Aku berteriak-teriak di selasar rumah
sakit. Aku masih belum mempercayai perkataan dokter yang baru saja mengotopsi
Kak Vian.
Bunda menangis di pelukan Ayah.
Sementara Kak Fero menangis sesenggukan sendirian di pojokan. Maklum dia
jomblo. Aku sendiri malah meraung-raung sembari dipegangi dengan erat oleh
Opsir Howard.
Tak dapat dipungkiri, Kakak yang
baru saja pamit dengan kami beberapa jam lalu di Bandara guna pergi ke Belanda
untuk kuliah, kini telah kembali lagi ke New York dengan utuh.
Dalam rupa mayat tentunya.
ϻ
Seminggu berlalu semenjak
meninggalnya Kak Vian. Aku masih bertanya-tanya tentang kematian Kak Vian yang
masih menimbulkan kontroversi. Bagaimana sebuah pesawat maha canggih, keluaran
baru, dan sebelum terbang telah dilakukan checking kelayakan terbang, dapat
mengalami kecelakaan tanpa menimbulkan bangkai pesawat sama sekali?
Media ramai-ramai meberitakan hal
tersebut. Bahkan sampai memanggil dukun sebagai narasumber berita. Namun tetap
saja, semua itu hanyalah spekulasi.
Tentu sebagai anggota keluarga,
kematian janggal akan selalu jadi pertanyaaan di semua benak keluarga. Namun
hal ini hanya sempat dipikirkan oleh diriku sendiri. Bunda, Ayah, dan Kak Fero
seolah sudah merelakan kepergian Kak Vian.
Tapi aku sendiri masih belum rela
karena kematian Kak Vian masih Janggal.
“Akan kuselidiki.”
ϻ
Selama dua hari dua malam aku
berpikir bagaiamana cara memecahkan kasus kematian Kak Vian yang janggal ini.
Selama dua hari itu pula aku tidak tidur terus menatap laptop. Dan selama dua
hari itu pula aku.... tidak pernah kencing.
Jam menunjukkan pukul dua pagi
ketika otakku kemasukan ilham secara tiba-tiba datang merasukiku.
‘Kembali ke masa lalu’
Aku menepis jauh-jauh pikiran khayal
semacam itu. Kembali ke masa lalu? Hahaha... sungguh konyol. Tidak akan ada
yang pernah bisa untuk kembali ke masa lalu. Hanya cerita-cerita imajinasi yang
dapat mewujudkan hal itu.
Dua jam berlalu, saat aku sedang
browsing tentang bagaimana cara membuat mesin waktu.
Dan aku masih belum menemukan
jawaban.
Hingga pada akhrinya aku menemukan
sebuah link yang memuat bagaimana cara membuat mesin waktu, lengkap dengan ia
menjual alat-alatnya. Entah suatu kebetulan atau apa, tapi link itu sejenak
mencerahkan permsalahanku.
Sejenak, aku melihat siluet Kak
Vian.
ϻ
Suatu gedung tua tak berpenghuni
ketika aku mengunjungi alamat yang tertera di link. Apa ini? Aku rasa aku
sukses di bohongi oleh website abal-abal. Ah, sial! Aku tak mengecek kebenaran
website tersebut, Arg, Sial..Sial!
Ketika aku tengah mengutuk website
penipuan tersebut, tiba-tiba aku merasa bahuku sedang ditepuk. Refleks, aku
langsung menoleh.
“Ikutlah denganku.”
Tanpa sadar, aku langsung berjalan
dibelakangnya. Entah apa yang merasukiku, tapi kaki ini tengah berjalan
sendiri. Aku tidak dapat menghentikannya.
Aku berjalan menuju suatu ruangan
putih bersih tak bercorak. Bahkan lantainya juga putih mulus tanpa ada noda
apapun. Ruangan apakah ini? Pasti akan sangat mahal untuk membuat ruangan putih
begini. Mungkin perlu delapan puluh wipol setiap hari untuk menciptakan ruangan
bersih seperti ini, batinku.
“Jadi, kau telah membuka link
websiteku? Pasti kau orang yang beruntung,” katanya.
Aku mengernyitkan kening. Beruntung?
Apa maksudnya?
“Websiteku tidak dapat ditemukan
secara sembarangan. Bahkan pada mesin pencarian pun. Hanya dengan kemauan yang
tinggilah yang dapat menemukan link milikku.”
Aku makin tidak mengerti dengan
ocehannya.
“Oh iya, aku belum memperkenalkan
diri,” ujarnya. “Namaku Epson. Dan usiaku, yah kira-kira tujuh belas tahun.”
“Seperti merek printer,” cetusku. “Aku
Hattan, empat belas tahun.”
“Ah, kau lebih muda. Tapi tetap
saja, dirimu lebih tua dibandingkan denganku.”
Aku tidak paham dengan perkataanya
barusan. “Apa maksudmu?”
“Yah, apabila di duniaku, usiamu
mungkin sudah menginjak 97 tahun,” ia berkata dengan riang sekali. “Tapi itu
masih terhitung muda, kok.”
“Hey...”
“Aku sesugguhnya dari masa depan
yang sengaja kemari.”
Ini mimpi! Pasti mimpi. Pasti ini
dunia mimpi akibat aku yang terlalu sering menonton film Time Machine. Ah, aku
rasa diriku harus tersadar secepatnya.
“Dan aku di sini akan berusaha
membantu orang-orang yang ingin kembali ke masa lampau.”
Gawat! Ini ternyata bukan mimpi.
Berkali-kali aku mencubit pantatku hingga memerah, ilusi mimpi ini tidak juga
hilang. Jadi ini nyata?
“Baiklah, jadi kau ingin ke masa
yang mana, Hattan?”
ϻ
“Hey, Hattan! Ke sini sebentar.
Kakak mau memberi tahu sesuatu.” Suara berat itu tak asing di telingaku. Suara
yang sesungguhnya sangat kurindukan. Suara yang selalu mengisi hariku. Suara
Kak Vian.
Aku membuka mata dan mendapati
diriku sedang berdiri di dekat ayunan taman belakang rumah. Kulihat Kak Vian
dari kejauhan sedang melambai-lambai ke arahku. Secara otomatis, kakiku berjalan
menuju ke arahnya.
Kak Vian mengajakku menuju kedai es
krim di dekat rumah. Dia memesan Es krim coklat mix vanilla dengan ukuran
jumbo. Sementara diriku masih diam sembari mataku terus tertancap pada tubuh
besar di hadapanku.
“Hey, Hattan. Kau mau pesan apa?”
Suara Kak Vian membuatku tersadar
akan lamunanku. Cepat-cepat aku meneriakkan kata Strawberry kepada pelayan.
Pelayan itu mengangguk dan berlalu pergi.
“Hattan, ada informasi penting yang
akan Kakak sampaikan,” ujarnya lirih. Ia mengalihkan pandangannya menuju sudut
pandang yang lebih lapang. “Kakak akan ke Belanda untuk kuliah.”
Aku merasakan hal yang aneh.
Bukankah ini kejadian hampir setengah tahun yang lalu? Mengapa aku di sini
kembali?
“Gimana? Kamu mau ikut?” tanya Kak
Vian dengan nada menggoda. “Enak loh di sana. Kamu bisa main sepuasnya. Juga
ada anak dari Paman Jeff yang bisa kamu ajak main.”
Aku masih mengingat betul jawabanku
akan pertanyaan barusan.
“Ikut dong kak! Pasti seru di sana,”
kataku antusias.
“Tapi, ijin bunda dulu. Kalau bunda
ngijinin, kita berangkat berdua.” Kak Vian mantap.
Kemudian Es krim kami datang. Dua
porsi besar es krim berada di hadapan kami. Kulihat Kak Vian sedang menikmati
es krimnya dengan ekspresi bahagia.
Ekspresi itu, adalah ekspresinya
yang terakhir.
Bukan begini inginku, batinku.
Sontak, aku langsung berganti
dimensi dan kembali ke posisi awal ketika aku tadi di ayunan taman belakang
rumah.
ϻ
“Hattan,
ada informasi penting yang akan Kakak sampaikan,” ujarnya lirih. Ia mengalihkan
pandangannya menuju sudut pandang yang lebih lapang. “Kakak akan ke Belanda
untuk kuliah.”
Pertanyaan
ini selalu diulang-ulang ketika aku merasa bukan ini jawaban yang tepat. Total,
aku sudah menjawab pertanyaan ini 300 kali dengan berbagai tipe jawaban yang
sekiranya dapat membatalkan kepergian Kakak. Namun, tetap saja. Aku selalu
terpindah dimensi menuju kamar di mana Mama membangunkanku untuk makan malam.
“Entahlah,
Kak. Aku bingung,” ujarku lemah. “Kenapa kok nggak kuliah di sini aja? Toh kan
sama aja.”
Kak
Vian tertawa kecil. “Jelas beda. Ilmunya berbeda, Hattan. Di sana kamu akan
belajar lebih ketimbang belajar di sini. Secara dosen pengajar juga berbeda
kelasnya.”
“Gimana
kalau dosennya yang ke sini? Jadi kakak nggak usah ke sana.”
Kak
Vian, diam menatapku dalam. Ada apa ini? Tatapannya berbeda. Tidak seperti
adegan-adegan sebelum-sebelumnya. Ini... jauh lebih dingin.
“Kamu
tidak merelakanku pergi meninggalkanmu ya, Hattan,” katanya sambil menyandarkan
tubuhnya ke belakang. Tapi matanya terus menatapku. “Dengarkan aku, Hattan.
Percuma saja kamu mengulangi waktu.”
Mataku
melebar, nafasku tertahan.
“Avance,
Hattan, Avance!” Dia mendekatkan wajahnya kepadaku. “Kamu hidup harus terus
bergerak maju. Sama dengan waktu. Kamu tidak akan bisa mengulangi masa lalu
untuk merubah masa depan.”
“Kamu
hanya bisa melakukan perbaikan diri demi masa depan lebih baik.” Dia masih
menatapku dalam sementara aku masih tidak berpaling dari tempatku. “Tidak bisa
kamu mencoba mempertahankan seseorang yang sudah ditakdirkan meninggal di masa
lalu, agar dia dapat terus hidup di masa depan. Ingat, kematian adalah takdir
tuhan.”
Bibirku
berkata tanpa perintah, “Tapi, aku tidak ingin Kak Vian pergi. Aku sayang
Kakak!”
“Aku
juga menyayangimu, Hattan. Tapi lihat, Kakak tidak memohon kepada tuhan untuk menghidupkan
Kakak lagi, kan supaya dapat bertemu kamu? Semua itu ada kodratnya.” Aku mulai
meneteskan air mata. “Kodrat waktu, ia tidak dapat diulang atau diputar
kembali. Dia terus bergerak maju, meskipun kau coba menghentikannya sekuat
tenagamu.”
“Kembalilah.
Biarlah takdir mengambil perannya. Kakak nyaman di sana. Jangan risaukan Kakan.
Doakan saja Kakak sudah sangat senang, Hattan.”
Kemudian,
jarak antara Kak Vian dan diriku tiba-tiba menjauh. Dimensi kedai itu mulai
memudar, berganti ke dalam dimensi hitam dan gelap gulita.
“Jika
kau ingin mengingatku, belajarlah dan kuliah di sana. Setidaknya itu yang bisa
membuatku tersenyum saat ini,” ujar Kak Vian sebelum dimensi itu berubah
sepenuhnya menjadi dimensi gelap gulita.
Disaat
yang bersamaan, mataku terpejam dan aku tak mengerti apa yang terjadi
selanjutnya.
ϻ
Ketika,
aku membuka mata, kudapati diriku tengah berada di suatu tempat yang kurasa
adalah kamarku. Mama berdiri di sampingku. Mama menangis sejadi-jadinya ketika
mengetahui diriku tersadar.
“Syukurlah,
kamu siuman, Hattan.” Mama mendekapku erat. Bau deodorannya semerbak dihidungku
yang membuatku ingin bersin.
“Aku
kenapa, Ma?” tanyaku polos.
“Kamu.....”
Mama tidak meneruskan perkataannya.
“Kenapa
Ma?”
Baru
saja Mama membuka mulut, dimensinya berubah kembali. Aku berada di ruangan yang
berwarna abu-abu dan kulihat tidak ada batasan jika ini adalah ruangan. Barulah
aku menyadari satu hal ketika aku melihat seluruh tubuhku yang perlahan menjadi
hologram.
Aku
terjebak diantara ruang dimensi waktu.
“Sial!”
07.14
|
Label:
Cerpen
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Short Story Mind @ copyright 2013. Diberdayakan oleh Blogger.
Check
Riwayat Hidup
- Propariotik
- Gue adalah gue. Gue yakin jika gue akan jadi penulis. Kenapa..? Karena gue saat ini sedang menulis ini. Nggak percaya, liat aja tulisannnya. Follow @propariotik
0 komentar:
Posting Komentar