The Way road Kampus Fiksi
Tulisan
ini dibuat seminggu setelah kampus fiksi usai. Banyak kenangan, banyak cerita
yang timbul dalam bangunan berlantai dua itu. Datang dengan bahagia, pulang
membawa air mata. Ah, sungguh cengeng!
Tapi
tak dapat dipungkiri, perpisahan itu berakhir mengharukan. Meskipun tiada air
mata yang jatuh, namun perasaan kami seolah sedang dipaksa terpisah.
Seperti
patah hati.
Baiklah.
Sebelum Aku menceritakan apa saja yang Aku dapat dari #KampusFIksi, alangkah
lebih baiknya jika Aku menceritakan bagaimana Aku bisa nyasar hingga Jogja, dan
bertemu dengan orang-orang epic yang super banget.
Oke,
semua dimulai dari pengiriman cerpen #KampusFiksi.
Awalnya,
Aku cuma berniat ketemu pacar (baca: sekarang mantan) saat berkumpul di
#KampusFiksi. Maka Aku cobalah untuk mengirimkan satu cerpen terbaikku ke sana.
Namun, terdapat suatu kendala yang Aku hadapi saat hendak menulis cerpen.
Aku
tidak tahu mau menulis apa.
Pada
dasarnya, Aku memang bergelut pada tulisan komedi. Sehingga pada outputnya,
cerita-cerita #Ngakak lah yang keluar. Sedikit kurang serius memang, namun Aku
merasa nyaman dengan hal itu.
Akan
tetapi, untuk #KampusFiksi Aku tidak bisa main-main.
Maka
dari itu, Aku membuat cerpen Aku dengan kesungguhan yang tinggi. Sedikit Aku
menurunkan ego untuk turun genre menjadi romance. Perlu diakui menulis lintas
genre itu susah. Dan hasilnya, cerita yang jadi langsung Aku self edit selama
dua minggu.
Setelah
memberikan judul, serta berdoa komat-kamit selama dua jam, maka Aku kirimkanlah
cerpen itu menuju #KampusFiksi. Berbagai doa Aku panjatkan, termasuk doa yang
meminta orang lain agar gagal lolos seleksi. Jahat!
Setelah,
beberapa bulan menunggu, akhirnya keluar lah hasil seleksi. Dan begitu
senangnya ketika namaku serta judul cerpenku jadi salah satu yang lolos. Saat
itu #KampusFiksi14.
Kemudian,
aku membandingkan dengan karya orang lain yang juga lolos di #KampusFiksi14. Ku
kira, aku adalah penulis hebat yang baru lolos seleksi. Setelah dibandingkan...
Judul
karyaku simple sekali, mirip kerupuk bawang Jatisari.
***
Karena
mempertimbangkan jadwal kuliah, kuputuskan untuk maju angkatan menjadi
#KampusFiksi13. Awalnya, spot #KF13 adalah penuh. Akan tetapi, ada salah satu
temaku (baca: Mey gendut) yang menawarkan tukar angkatan. Aku menyetujui, dan
berangkatlah diriku tanggal 28.
***
Pagi
hari, aku siap-siap berangkat. Hanya dengan bermodalkan tas ransel, dompet, dan
ponsel juga laptop, aku nekat berangkat ke Jogja. Dengan diantar bapak untuk
memberhentikan bus, aku merasa gugup. Baru kali ini aku pergi jauh luar
propinsi sendirian.
Dan,
pikiranku mulai meracau.
Bagaimana
jika nanti aku kesasar? Bagaimana jika aku diculik saat di terminal Jogja?
Bagaimana jika nanti aku ketemu bule, dan kemudian aku melamarnya?
Lima
belas menit menunggu, bus yang aku tunggu datang. Tangan ayah langsung kucium,
dan segera naik bus tersebut. Hanya 5 orang yang berada di bus itu.
Bus
langsung tancap gas. Sang supir memacu dengan cepat lajunya. Bahkan, tidak
jarang membahayakan pengendara lain. Hal itu terus terjadi sehingga membuat
diriku sempat mau jantungan. Beberapa penumpang sempat berkata istighfar, namun
tetap saja supir terus melaju menantang maut.
Dalam
beberapa waktu juga, supir berusaha untuk “Balapan” dengan bus lain. Akibatnya,
nyaris sekali bus yang aku tumpangi berciuman dengan sebuah truk molen.
Pada
tengah hari, bus berhenti untuk istirahat, yang kemudian dilanjutkan hingga
perjalanan menuju Jogja.
***
Jam
sudah menunjukkan pukul lima sore saat aku tiba di terminal Giwangan, Jogja.
Rasa asing langsung menyelimuti diriku ketika kaki menginjakkan pertama kali di
terminal ini. Aku menuju parkiran untuk menunggu penjemputan. Namun, tidak ada
siapa-siapa di sana. Hanya seorang pedagan asongan yang sempat menyapaku.
Kakiku
kulangkahkan menuju Musholla kecil yang terletak di dekat pintu kedatangan bus.
Aku celingukan tidak jelas mirip anak panti yang hilang.
Beberapa
kali aku mengecek Whatsapp juga SMS, berharap aku segera dijemput. Setengah jam
menunggu, tidak ada kabar hingga adzan magrib berkumandang. Aku mulai berpikir,
jika penjemputan ini tidak akan pernah terjadi.
Karena
lelah menunggu, juga berhubung sudah Adzan, aku memutuskan untuk shalat. Baru
saja aku berkata takbir sambil mengangkat kedua tangan, ponsel evercross
hitamku berbunyi. Karena firasatku mengatakan ini adalah nomor penjemput, aku
pun mengangkat telepon itu dan meninggalkan rakaat shalat. Sungguh goblok!
Di
sanalah aku bertemu mas Kiki. Kesan pertama saat bertemu dengan dia adalah
menakjubkan. Aku begitu takjub dengan ketampanannya. Rambut cepak, serta jaket
sporty yang ia kenakan, menambah tingkatan kegantenganya. Apalagi kulit putih
bersih miliknya. (Saya sedikit menjilat di sini).
Aku
juga bertemu mas agus yang terus saja menawariku kopi saat aku bertemu
dengannya. Ia juga sedang menunggu peserta lainnya yang akan tiba menurut
rencana pukul setengah tujuh malam. Namun, kenyataannya dia tidak sesuai jadwal
kedatangan. Dia molor. Itulah Om Aswary, Mila dan Farika.
Mas
Agus kemudian berdiri dan segera mengambil mobil. Dimasukkanlah peserta-peserta
ini ke dalam mobil. Aku dan Om Aswary berbincang-bincang selama perjalanan
menuju lokasi. Entah itu tentang dunia tulis atau dunia lain. Yang jelas,
penampakan jelas terlihat dibalik kemudi dan samping kemudian.
***
Sesampainya
di gedung Kampus Fiksi, kami berempat di sambut dengan hangat. Baik peserta
lain maupun panitia. Ada Mbak Rina, Mbak Utami, Mas Wahyu, dan mbak satu lagi
aku lupa namanya. Sementara dari peserta ada Riana, Iken, Moly, Mas Gin, Garin,
Om Danang, Amir Sahri, Ovie jemblung, Riza, Munawir, dan Rialita. Saat itu
mereka sedang menyantap makan malam.
Karena
kami datang di saat yang tepat (baca : waktu makan malam), maka dengan cepat
kami saling akrab antara peserta satu dan peserta lain. Kami saling bertukar
cerita. Saling Sharing. Bahkan saling Bully. Dan bagian itulah yang aku suka.
Setelah
bercerita panjang lebar, semua peserta bersiap menuju dunia mimpi. Dengan
segala kepenatan yang di dapat, kasur adalah obat mujarab untuk menyembuhkan
hal tersebut. Dan, hari kami semua di sana akan segera di mulai.
***
Hari
telah berganti pagi ketika aku membuka mata. Rasanya, baru satu jam aku menutup
mata, kemudian hari telah berganti. Ajaib.
Saat
kubuka pintu kamar, suasana ruangan kelas telah riuh. Teriakan-teriakan protes
begitu mengema di seluruh ruangan. Dari semua teriakan itu, suara Ovie lah yang
paling keras, ngotot minta mandi duluan.
“Buka
pintunya! Siapa sih di dalem? Lama banget,sih!” Ovie sudah tidak sabaran di
depan pintu kamar mandi. Kakinya bergerak-gerak, mirip anak SD latihan jalan di
tempat.
Bukan
hanya Ovie saja yang seperti itu, Mas Reza―Dedengkot Kampus Fiksi― mondar-mandir
di sekitar ruangan.
“Siapa
sih di kamar mandi? Pengen nongkrong, nih.”
Dua
jam berlalu. Aktvitas perebutan kamar mandi pun usai. Semua peserta pun memulai
ritual pagi sebelum acara. Sarapan.
Seperti
tadi malam, di sela-sela sarapan mereka saling bercerita tentang pengalaman
mereka, budaya mereka, dan macam-macam. Aku hanya mendengarkan saja. Ternyata
cerita mereka unik-unik dan layak untuk disimak.
Selesai
sarapan, seluruh peserta kembali menduduki posisi duduknya, yang sebelumnya
telah diberikan papan nama di setiap meja.
Materi
pertama akan diisi oleh Pak Edi, CEO dari Diva Press sendiri. Jantungku
berdegup kencang, menunggu sosok Pak Edi. Sosok yang katanya seperti
bapak-bapak. Entah mengapa, suasana ruangan tiba-tiba membuatku merinding.
Beliau
datang. Langkah tegapnya membungkam seluruh peserta Kampus Fiksi. Tak
terkecualI juga panitia. Saat beliau duduk, semua yang ada di ruangan itu
menahan napasnya. Aswary yang tadinya tenang, kini menjadi gelisah dan mulai
keringatan melihat Pak Edi yang mulai memegang microphone.
“Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh,” kata Pak Edi dengan suara berat.
“Walaikumsalam,
pak.”
Beliau
mulai memberikan kata sambutan. Lantunan suaranya serasa menghipnotis kami
semua dalam diam. Kalem dan tegas. Aku sendiri sampai tak bisa berpaling
darinya ketika berbicara. Ah, rasanya aku terpesona akan bapak itu. #Plookk
Usai
memberikan sambutan, beliau langsung memberikan materi tentang teknik
kepenulisan. Seluruh peserta sibuk mencatat selagi mendengarkan beliau bicara.
Aku turut mendengarkan sembari mata ini mulai menurun daya buka kelopaknya.
“Baik
apa ada yang ditanyakan?” Pak Edi menawarkan kepada seluruh peserta. Saat
itulah aku bangung. Linglung.
Usai
materi dari Pak Edi selesai, giliran Mbak Rina untuk menyampaikan materi serta
tantangan menulis tiga jam dari setting favorit.
“Sekarang
saya tanya, setting mana yang ingin kalian tulis?” tanya mbak Rina.
Masing-masing
dari kami menyebutkan setting yang ingin kami tulis. Mulai dari Yuni urut.
Hingga tunjukan maut tangan mbak Rina ke arahku.
“Saya
ingin menulis setting dunia terjauh, dunia kampus,” kataku memancing tawa.
Krik...krik...krik..
Kampret!
“Baiklah,
nanti pada pukul dua, tantangan menulis cerpen tiga jam akan di mulai. Sekarang
lanjut pada materi berikutnya tentang editing.”
Berikutnya
diisi dengan materi editing. Kami disuguhkan naskah, yang kemudian dianalisa
apa yang perlu diedit dari naskah ini.
Pukul
duabelas kami istirahat makan dan sholat. Kembali kami habiskan waktu itu untuk
saling bercerita kembali satu sama lain. Beberapa peserta lain malah memilih
tidur di kamar.
Aku
mulai menuliskan outline cerpen yang akan aku buat. Berkali-kali aku mengalami
kebuntuan, bagaimana mengalirkan cerita ini. Tiga baris outline, coret! Tiga baris,
coret! Begitupun seterusnya.
Karena
pusing, aku memilih untuk makan dahulu. Mungkin setelah makan, aku akan
menemukan hidayah atas permasalahanku. Tapi... tetap saja, usai makan malah
pikiranku makin buntu. Kampret!
Aku
coba mencari referensi dengan membaca buku. Buku karya mbak Farrah coba aku
baca. Baru membaca 3 bab, kepalaku pusing. Bukan karena bukunya, tapi
memikirkan outline untuk cerpenku tadi.
***
Tantangan
nulis tiga jam dimulai. Seluruh peserta langsung “On” terhadap laptopnya
masing-masing. Mata mereka sampai nyaris keluar karena terlalu fokus. Sementara
aku masih linglung dan berpikir “Ini kita lagi ngapain?”
Tanganku
terasa kaku ketika ingin menuliskan kalimat pertama, bahkan kata pertama.
Melihat yang lain dengan lancarnya menuliskan kata-kata dalam naskahnya.
Anjir,
aku kayaknya paling bego deh!
Namun,
aku tetap pantang menyerah. Jika di sini saja aku sudah memutuskan untuk kalah,
bagaimana bisa kedepannya aku menjadi penulis sesungguhnya. Ini adalah miniatur
dunia tulis menulis. Jika di sini gagal, maka sampai kapanpun dunia tulis
menulis tidak akan pernah ada untukku.
Dengan
perlahan aku menuliskan kalimat pertamaku. Keringat dingin keluar. Setiap
menulis kata, maka satu buah waferlah yang jadi korban. Maka jika ada 3000 kata
yang tertulis, dapat disimpulkan aku telah membuat Diva Press bangkrut.
Dengan
rasa yakin, aku tetap menulis naskahku. Perlahan, alurku mulai terlihat.
***
Waktu
bebas diberikan setelah tiga jam tantangan menulis selesai. Kepala yang
berdenyut, tangan yang pegal, melengkapi penat hari itu.
Hari
sudah sore. Bau badan mulai menyeruak keluar setelah seharian duduk menerima
materi. Beberapa peserta tampak berlarian di ruangan tujuh kali delapan meter,
guna berebut kamar mandi. Tak jarang, mereka saling gigit untuk berebut kamar
mandi.
Suasana
luar ruangan sore itu juga terlihat menenangkan. Langit jingga khas sore serta
tiupan angin yang sedikit kencang, membuat penat sedikit berkurang.
Pikiranku
melayang tentang dunia kampus, dunia penuh kesibukan yang setahun kemarin aku
digembleng.
Apa
kabar dengan mereka? Kira-kira tanpa aku mereka bagaimana, ya?
Aku
menoleh kembali kepada teman-temanku yang sedang berebut kamar mandi. Kutemukan
teman baru di sini. Menjalin relasi, menjalin keluarga baru.
Setidaknya,
aku berharap dalam hati. Semoga keluarga kecil ini tetap ada.
***
Malam
hari, muncul para alumni KF terdahulu dari jaman sekunder. Dipimpin oleh bang
Ipul (Saiful Anwar) yang katanya habis dari pantai, mereka datang dengan banyak
rombongan.
Jujur,
saat itu aku mengira akan ada tawuran antar angkatan.
Dengan
gagahnya, Bang Ipul sok-sok an memberi materi. Celana tiga perempat, jaket
coklat, dan wajah gelap-gelap gosong, penampilannya sangat mendukung untuk
menjadi pemateri tentang “Bagaiamana selamat dari kebakaran hutan”
Selama
satu jam, Bang Ipul menyampaikan materi. Dan selama itu pula, keringatnya
bercucuran.
Dari
materi yang diberikan, satu-satunya hal yang aku dapatkan adalah....
Tidak
ada, hanya sakit perut yang aku dapat akibat kebanyakan tertawa.
***
Pukul
sebelas, para peserta lain mulai kelelahan fisik. Mata mereka mulai mengalami
ilusi “Bantal”. Ilusi yang menyebabkan apapun yang besar dan lebar, akan
terlihat seperti kasur empuk yang siap ditiduri. Di sini, Ovie keadaannya
sangat terancam.
Aku
dan tiga orang lainnya, masih mencoba bertahan untuk mengikuti agenda terakhir
di hari itu. Ngaji.
Sebelum
itu, aku beranjak ke kamar kecil dulu. Urine sudah membuat ujung “Junior” ku
menahan perih yang amat berlipat. Efek dari kebanyakan duduk, dan kemudian
minum air putih teratur ternyata seperti ini. Sehat, namun agak menyakitkan.
Kemudian,
mimpi buruk di mulai. Ketemu dedengkot, Musuh lama, Trice Fakhri.
Orang
yang pertama kenal ngaku-ngaku muggle. Orang yang baru nimbrung langsung main
sok nyepik. Orang yang penampilannya model klimis andika kangen ben. Si kampret
Trice, thats the name.
Trice
merupakan mahkluk langka yang aku kenal melalui grup JT. Yah, grup yang mungkin
rada nggak jelas jalan kerjanya ciptaan Meili gendut. Grup tersebut aku masuki
setelah dulu sempet jadian sama pacar (baca : sekarang mantan!) Dalam grup
tersebut projek kita banyak. Mulai dari sharing ilmu, bikin cerpen, sampai
kumcer. Tapi yang perlu digaris bawahi, kita lebih banyak becandanya dari pada
melakukan kegiatan yang tadi.
Oke,
balik lagi ke sosok Trice kampret.
Akhirnya,
aku bisa berkomunikasi dengan mahkluk astral ini. Setelah sekian lama hanya
chatting saja via Wassap, sekarang nyatalah bentuk Trice sesungguhnya.
Setidaknya, dia masih punya rupa wajah yang kira-kira.... sebelas duabelas sama
Walrus.
Pada
pukul tepat 12 malam, acara ngaji bareng dibuka. Pak Edi menjadi pemimpin.
Agenda pada ngaji kali itu berupa khataman Al-Quran dan tahajjud bersama. Rasa
khusyuk menyelimuti orang-orang yang saat itu masih membuka mata untuk
tahajjud. Rasanya seperti ringan usai melakukannya. Inikah efek dosa yang
terkikis?
Setelah
itu, seluruhnya beristirahat. Besok adalah hari terakhir di Kampus fiksi. Jadi,
sekalian mempersiapkan tenaga untuk pulang juga.
***
Hari
ketiga, pemateri berasal dari luar Diva. Akan tetapi, beliau merupakan teman
dari Pak Edi sendiri.
Pak
Joni namanya. Orangnya agak kurus namun tinggi, kepala botak dan berjenggot
panjang. Suaranya mirip kakek-kakek renta yang khas dengan serak-serak
basahnya. Dengan gagahnya dia maju, dan mulai memegangn mic untuk menyampaikan
materi.
Beliau
mulai bercerita tentang perjuangannya menjadi seorang penulis seperti ia
sekarang. Diawali dengan ia berguru pada ayah temannya yang merupakan seorang
penulis. Ia disuruh untuk membaca buku pilihan gurunya. Namun, yang perlu
diketahui, pak Joni tidaklah suka membaca awalnya. Namun dengan dorongan
gurunya, maka ia jadi suka membaca. Dan uniknya, ia disuruh gurunya untuk
membaca satu buku dalam sehari, baru ia bisa meminjam buku lain. Jika tidak
dibaca maka ia akan mendapat hukuman dari gurunya tersebut.
Cerpen
awal dari Pak Joni berjudul Lampor. Kisahnya menceritakan tentang kehidupan
pekerja seks yang ada disekitar tempat tinggal beliau. Bagaimana dia melayani
pelanggan, baik muda, tua, maupun remaja. Beliau membeberkan caranya menulis
cerita.
Meskipun
begitu, lebih banyak tertawanya selama beliau menyampaikan materi. Beberapa hal
aku dapatkan dari beliau seperti rajin-rajin membaca, berlatih menulis tiap
waktu, dan masih banyak lagi. Intinya apa yang beliau berikan, akan menunjang
kedepannya bagi calon-calon penulis yang saat itu ada diruangan.
Kemudian,
Pak Joni selesai dan peserta memberikan applause yang meriah, diselingi dengan
pemberian cinderamata oleh Pak Edi selaku CEO Diva Press.
Berikutnya,
diadakan analisa cerpen. Pak Edi menyayangkan karena hanya satu cerpen yang
layah dibahas. Milik Om Ginanjar lah yang saat dibahas. Dengan konsep surealis,
Pak Edi terkesan dengan karya itu dan menjanjikan jika cerpen itu akan masuk
dalam Basa-basi.co. Lumayan lah, dapat honor.
Sementara
cerpenku? Ah, sudahlah! Dementor saja paling juga pingsan saat membaca kalimat
pertama.
***
Sebelum
penutupan, aku sempat bertarung dengan Trice kampret. Trice ada saja modusnya
buat deketin cewek cantik. Riana yang kala itu coba ia deketin. Beberapa kali
kulihat wajah Trice mupeng. Aku menggodanya via Wassap grup JT. Alhasil grup
jadi rame. Apalagi ketika kulontarkan isu jika Trice mandi pas hanya mau
modusin cewek.
Dan
kami pun makin panas ketika menjelang puncak penutupan Kampus Fiksi #13. Pak
Edi selaku CEO, membuka acara penutupan itu dengan suara berat yang membuat
merinding. Dengan khidmat seluruh peserta mendengarkan dengan seksama
petuah-petuah dari sang bapak. Aku pun manggut-manggut tanda paham.
Setelah
rangkaian acara ditutup, maka acara berikutnya adalah yang paling menyedihkan.
Perpisahan.
Semuanya
saling berpelukan, dan saling meneteskan air liur. Aku dan beberapa peserta
lain seperti Aswary dan Fariha memutuskan untuk pulang mendahului yang lain.
Karena mereka ingin jalan-jalan terlebih dahulu. Kami pun semuanya, dibekali
dengan satu kardus berisi buku. Dan sumpah, ini berat banget.
Kami
yang datang menggunakan bis, pulang juga menggunakan bis. Aku dan Aswaru
berbeda bis, karena aku mengincar pemberhentian di ngawi untuk shalat isya.
Yah, apa boleh buat aku pun berpisah di giwangan. Disayangkan memang. Namun apa
daya, aku lupa belum shalat tadi.
***
Kampus
Fiksi menyajikan cerita lain dalam hidup. Aku bertemu orang-orang baru, bertemu
orang-orang hebat, dan bertemu orang-orang epic macam Ovie dan Trice. Tapi, aku
bersyukur akan hal itu. Aku bersyukur karena tidak banyak orang yang memiliki
kesempatan itu. Aku bersyukur karena bisa memiliki relasi seperti itu.
Harapanku tetap seperti dulu aku mulai menuliskan cerita, menjadi penulis.
Tetap dan tidak berubah. Cmiww..
20.16
|
Label:
Sharing Pengalaman
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Short Story Mind @ copyright 2013. Diberdayakan oleh Blogger.
Check
Riwayat Hidup
- Propariotik
- Gue adalah gue. Gue yakin jika gue akan jadi penulis. Kenapa..? Karena gue saat ini sedang menulis ini. Nggak percaya, liat aja tulisannnya. Follow @propariotik
0 komentar:
Posting Komentar