Menjadi Dewasa, Kepala Dua, Bahagia?

Menjadi dewasa itu menyerupai pisau yang bermata dua. Terkadang dia menyenangkan, terkadang pula, itu menyakitkan. Menjadi dewasa merupakan bagian dari kehidupan yang pasti dilalui oleh semua orang, kecuali orang itu kurang beruntung pada nasibnya.

Saat gue kecil, rumah nenek adalah tempat berkumpulnya seluruh keluarga besar. Terutama saat hari raya tiba. Banyak makanan manis, jelly, minuman, dan yang paling penting adalah angpau dari para tetua. Dahulu, beberapa anak kecil suka mengadakan kompetisi "Siapa yang paling banyak" uang angpaonya. Tentu pada jaman dahulu, ini adalah kompetisi yang sangat menarik. Terlebih, elo bisa menjadi jutawan sesaat. Meskipun, tidak sampai satu juta, sih.

Semakin umurmu muda, maka semakin banyaklah pundi-pundi angpao yang engkau dapat. Semakin tua dirimu, angpao mu hanya berupa kricikan uang logam! Dan itu benar adanya. 

Ini mau cerita masalah usia, kok malah bahas angpao hari raya? Selow bos, sabar.

Pertambahan usia yang seharusnya lama, justru dirasakan sangatlah cepat. Barusan saja kemarin berusia tujuh tahun, kini sudah menginjak kepala dua. Hanya karena gue mengedipkan mata, tiba-tiba jakun gue, brewok atas sama bawah gue, dan rambut kaki gue tumbuh tak terkendali. Kini fisik gue seperti om-om yang gemar main telolet.

Ketika lo kecil, seperti diatas, saat kerumah nenek elo akan disambut layaknya pangeran yang baru lahir. Candaan dan beberapa cubitan gemas akan terus-menerus menyerangmu. Baik dari tante, paman, bibi, om, pakde, budhe, bulek, palik, dan kakek nenek. Perlahan engkau beranjak dewasa, cubitan-cubitan itu mulai memeudar. Karena mereka tahu, dengan wajah brewok gue kini, akan terasa menggelikan bagi mereka jika masih memperlakukan gue seperti itu.

Perbedaan itu makin terasa nyata ketika perlahan usia menginjak kepala dua. Bersiap menjadi dewasa, memandang dunia dengan persepsi kita masing-masing. Gue nggak pernah mengira, jika perawalan dari menjadi dewasa akan terasa "Berat" seperti ini.

Dulu, ketika ke rumah nenek, pasti akan dimanja dengan kata-kata seperti ini

"Uhh.. cucu nenek udah dateng. Mau makan apa? Ayam goreng? Atau Empal? Kamu harus makan supaya nggak kurus!"

Nyatanya ketika gue dewasa

"Makan terus! Kamu kuliah ngapain aja? Kok jadi gendutan? Itu perutmu meluber kaya mayonaise pada botol! Sana, gerak sana! Kurusin perutmu!"

Sejujurnya ini adalah dilema bagi gue. Saat gue kecil, gue selalu diberi doktrin untuk selalu "Makan" agar gue gendutan. Orang mengira, ketika anak kecil itu gendutan, maka mereka akan terlihat menggemaskan dengan sangat. Ketika gue sudah terpengaruh akan doktrin itu, kini gue di maki. Katanya gendut  itu buruk. Dari sini gue dapet satu kesimpulan "Orang dewasa gak boleh gendut!"

Ketika gue dirumah nenek, ketika gue datang maka akan selalu ada yang namanya pertanyaan-pertanyaan nol. Atau baik buat dijawab, tapi kalau tidak dijawab ya tak mengapa. Akan tetapi ketika tidak dijawab, maka kualitas pertanyaan tersebut akan berubah menjadi "Menohok". Dampaknya, ketika kita tidur kita akan selalu kepikiran. Dan gue adalah dari itu.

Ketika kecil, saat kerumah nenek, gue akan selalu ditanyain begini

"Udah kelas berapa?"
"Rangking berapa di kelas?"
"Kok kurusan? Jarang makan, ya dirumah?"
"Mau makan apa?"
"Nanti kalau dapat angpao, mau beli apa lagi?
"Pasti kangen sama kambing yang dibelakang rumah, ya?"
#OhChilhood

Ketika gue menginjak kepala dua, pertanyaan akan ter-upgrade dengan sendirinya. Kualitasnya pun "Menohok"

"Udah punya pacar?"
"Semester berapa? Kapan mau lulus?"
"Kuliah di mana?"
"Mau kerja di mana?"
"Lagi deket sama cewek ya?"
"Kapan mau nikah?"
#Anjing

Itu pertanyaan, belum lagi pernyataan dan masukan-masukan mereka

"Kamu nikah sama ini aja, nih. Kayaknya cocok deh"
"Kerja di bagian ini aja, kan jurusan mu begitu-begitu kan. Kayaknya cocok deh"
"Cepetan lulus, kerja, trus S2. Kayaknya cocok deh."
"Trus ntar nikah! Kayak cocok deh."

Cocok ndasmu?!

Menjadi dewasa, otomatis akan memenjarakan hidup. Hidup sesuai aturan dan tatanan untuk level yang lebih baik. Saat kecil, kita tidak pernah memikirkan konsekuensi apapun dalam hidup. Kita hidup bebas, minta ini itu, dan semua dituruti oleh orang tua kita (Mungkin). Beranjak dewasa, perlahan kita mulai tak bisa bergerak bebas. Kita diajari oleh ini dan itu sebagai bekal hidup. Dan perlahan, kita mengerti akan satu hal.

Kita akan seperti itu!

Yah, kita akan menjadi dewasa seperti orang tua kita. Memiliki buah hati dan membesarkan mereka, untuk menjadi manusia berikutnya yang menggantikan kita. Dan dia akan hidup sama seperti manusia lain, hanya dengan perbedaan takdir dan nasib.

Mengetahui hal itu, membuat gue jadi sedikit kesal. Perubahan yang terjadi dan pertambahan usia, kita sama sekali tidak dapat mengulangi hal itu menjadi sedia kala. Semua berkembang menjadi dewasa, menua, dan tiada. Gue mendapat satu kesimpulan inti dari sini.

Menjadi dewasa adalah proses dari dihidupi menjadi menghidupi. Menghidupi diri sendiri, menghidupi pasangan, dan menghidupi calon penerus kita. Semuanya selalu seperti itu. Rotasi kehidupan, yang hanya akan berakhir jika sudah ditentukan oleh sang pencipta.

Apakah bahagia? Yah, menuju sih. Karena gue menganggap definisi dasar dari bahagia itu abstrak. Ada yang bahagia karena main pokemon go doang, ada bahagia yang jalan sama pacar meskipun itu pacarnya temen, dan adapun bahagia-bahagia yang lainnya. Jadi, apa yang bisa kita lakukan selain terus menyukuri akan hidup kita?

Tulisan Pejantan Alpha

Gue tak pernah mengira, menjadi seorang pejantan alpha, bisa menjadi seberat ini. Ya, memiliki anak-anak yang harus diasuh dan membesarkan mereka sangatlah tidak mudah. Salah masukan, salah pula output yang dihasilkan. Sesuai dengan peribahasa, kau menuai apa yang kau tanam.

Menjadi seorang mahasiswa semester ke 5, merupakan tanda jika usia telah semakin menua. Datangnya maba menjadi tonggak awal dalam menandakan "Hey, dirimu sudah tua!". Wajah culun mereka, senyum takut-takut mereka, cengiran malu-malu, bahkan sikap curi-curi pandang mereka, menjadi satu ketika pertama kali masuk ke dalam jurusan. Yang namanya ospek atau kaderisasi, menjadi suatu momok menakutkan bagi seluruh Maba. Pikirnya cuma satu, "Senior itu dewa."

Menginjak semester 5 ini, pergumulan terkait organisasi menjadi hal yang biasa dalam hidup. Marah, seneng, tengkar, bahkan saling support. Namun tak hanya itu, terkadang seluruh diri kami dicemooh oleh sebagian orang yang menganggap kami sebagai orang yang bodoh. Tak pernah terkira pula, gue memegang jabatan yang notabene nya "Mengurusi maba". Mayoritas seluruh kegiatannya adalah memang untuk mengembangkan skill dari mahasiswa itu sendiri. Pelatihan, upgrading, dan lain-lain, menjadi hal yang membosankan bagi departemen ini, Namun, hiburan selalu datang jika membahas ospek/Kaderisasi.

Terkadang, yang namanya maba selalu dijadikan objek yang harus selalu menderita. Pertama oleh senior, kedua oleh senior jurusan lain, ketiga oleh asisten praktikum yang nyatanya adalah senior. Ya, maba adalah rakyat jelata yang harus tunduk terhadap yang namanya dewa (Senior.red). Tetapi, ada pula yang berusaha mematahkan mitos tersebut. Ada dua hasil yang mungkin terjadi, pertama dia akan diakui oleh senior, kedua dia akan dijadikan bahan bullyan selama setahun. Tapi, mayoritas yang kedua, sih.

Ini kenapa gue jadi melebar, yak? Oke, selow.

Jadi, selama gue memangku cewek, eh jabatan ini, gue udah merasakan beberapa hal yang sudah dijalani oleh para sesepuh dahulu. Yang namanya himpunan, itu menghimpun mahasiswanya, menyatukan aspirasi, dan bergerak. Tapi fakta lapangan yang terjadi adalah, mahasiswa yang dihimpun harus dicari dulu seperti kita menggiring bebek. Kenapa, karena dari pihak fungsinaris dari himpunanlah yang harus mencari massa dalam setiap kegiatan. Definisi sebagai fasilitator bagi seluruh mahasiswa, tidak terjalankan secara benar. Kesan yang timbul adalah para pembuat acara membutuhkan orang untuk menyukseskan acaranya. 

Oke, tulisan ini kemudian menjadi serius, dan tiba-tiba suasana tegang! So, selow aja.

Ini pendapat gue, harusnya ketika suatu himpunan menjadi fasilitator, dia tidak seharusnya bingung dengan massa yang akan hadir dalam acara tersebut. Ketika dia mulai bingung, maka satu pertanyaan besar, apakah perannya sebagai fasilitator sudah mulai mengalami degradasi dan berubah menjadi Event organizer swasta? Jikalau begitu, mending bubarkan saja himpunan itu! Banyak yang mengatakan bahwa "Mungkin, engkau kurang mengajak kita-kita aja. Coba dong diajak.".

Kita sudah mengajak. Dan hasilnya, yan tetap saja itu-itu saja. Spesies yang sama, varietas yang sama, dan perilaku yang sama.

"Tembungi personal!" Gue sudah lakukan hal itu, dan nyatanya dia tidak datang pada acara tersebut.
Dunia organisasi kini menjadi keras, layaknya bursa bola yang terus melangit hingga kini. Kalau secara bodoh gue boleh memilih, gue lebih memilih maih mahjong daripada uler tangga.

Lah, malah main uler tangga, author goblok!

Oke, itu hanya secuil masalah seputar dunia organisasi gue. Itu hanya luarannya saja. Dalam internal pun demikian susah. Bukannya gue mengeluh, tapi memang seperti itu yang dirasakan. Mengisi gelas kosong itu mudah, tapi untuk mempetahankan isian kita pada gelas yang haus akan cairan, itu susah. Haruslah isian kita itu berkerak, menempel, bagai jigong pada gigi! 

Harapan sebagai pejantan alpha selalu tinggi pada calon penerus ini. Akan tetapi, perlahan kobaran api mereka perlahan mulai meredup di sela-sela kabut kesibukan yang mencekam. Hal itu yang selalu gue takutkan. Ketika tiada yang meneruskan langkah kita, mau dibawa kemana mimpi kita nanti?

Mungkin itu dulu aja yang bisa gue tulis, Nantikan tulisan-tulisan lain. Melalui tulisan ku bersuara, mengungkap rasa dan logika, kau tak bisa melawan kata, karena dia selalu berada di sana.


The Way road Kampus Fiksi

                Tulisan ini dibuat seminggu setelah kampus fiksi usai. Banyak kenangan, banyak cerita yang timbul dalam bangunan berlantai dua itu. Datang dengan bahagia, pulang membawa air mata. Ah, sungguh cengeng!
                Tapi tak dapat dipungkiri, perpisahan itu berakhir mengharukan. Meskipun tiada air mata yang jatuh, namun perasaan kami seolah sedang dipaksa terpisah.
                Seperti patah hati.
                Baiklah. Sebelum Aku menceritakan apa saja yang Aku dapat dari #KampusFIksi, alangkah lebih baiknya jika Aku menceritakan bagaimana Aku bisa nyasar hingga Jogja, dan bertemu dengan orang-orang epic yang super banget.
                Oke, semua dimulai dari pengiriman cerpen #KampusFiksi.
                Awalnya, Aku cuma berniat ketemu pacar (baca: sekarang mantan) saat berkumpul di #KampusFiksi. Maka Aku cobalah untuk mengirimkan satu cerpen terbaikku ke sana. Namun, terdapat suatu kendala yang Aku hadapi saat hendak menulis cerpen.
                Aku tidak tahu mau menulis apa.
                Pada dasarnya, Aku memang bergelut pada tulisan komedi. Sehingga pada outputnya, cerita-cerita #Ngakak lah yang keluar. Sedikit kurang serius memang, namun Aku merasa nyaman dengan hal itu.
                Akan tetapi, untuk #KampusFiksi Aku tidak bisa main-main.
                Maka dari itu, Aku membuat cerpen Aku dengan kesungguhan yang tinggi. Sedikit Aku menurunkan ego untuk turun genre menjadi romance. Perlu diakui menulis lintas genre itu susah. Dan hasilnya, cerita yang jadi langsung Aku self edit selama dua minggu.
                Setelah memberikan judul, serta berdoa komat-kamit selama dua jam, maka Aku kirimkanlah cerpen itu menuju #KampusFiksi. Berbagai doa Aku panjatkan, termasuk doa yang meminta orang lain agar gagal lolos seleksi. Jahat!
                Setelah, beberapa bulan menunggu, akhirnya keluar lah hasil seleksi. Dan begitu senangnya ketika namaku serta judul cerpenku jadi salah satu yang lolos. Saat itu #KampusFiksi14.
                Kemudian, aku membandingkan dengan karya orang lain yang juga lolos di #KampusFiksi14. Ku kira, aku adalah penulis hebat yang baru lolos seleksi. Setelah dibandingkan...
                Judul karyaku simple sekali, mirip kerupuk bawang Jatisari.
***
                Karena mempertimbangkan jadwal kuliah, kuputuskan untuk maju angkatan menjadi #KampusFiksi13. Awalnya, spot #KF13 adalah penuh. Akan tetapi, ada salah satu temaku (baca: Mey gendut) yang menawarkan tukar angkatan. Aku menyetujui, dan berangkatlah diriku tanggal 28.
***
                Pagi hari, aku siap-siap berangkat. Hanya dengan bermodalkan tas ransel, dompet, dan ponsel juga laptop, aku nekat berangkat ke Jogja. Dengan diantar bapak untuk memberhentikan bus, aku merasa gugup. Baru kali ini aku pergi jauh luar propinsi sendirian.
                Dan, pikiranku mulai meracau.
                Bagaimana jika nanti aku kesasar? Bagaimana jika aku diculik saat di terminal Jogja? Bagaimana jika nanti aku ketemu bule, dan kemudian aku melamarnya?
                Lima belas menit menunggu, bus yang aku tunggu datang. Tangan ayah langsung kucium, dan segera naik bus tersebut. Hanya 5 orang yang berada di bus itu.
                Bus langsung tancap gas. Sang supir memacu dengan cepat lajunya. Bahkan, tidak jarang membahayakan pengendara lain. Hal itu terus terjadi sehingga membuat diriku sempat mau jantungan. Beberapa penumpang sempat berkata istighfar, namun tetap saja supir terus melaju menantang maut.
                Dalam beberapa waktu juga, supir berusaha untuk “Balapan” dengan bus lain. Akibatnya, nyaris sekali bus yang aku tumpangi berciuman dengan sebuah truk molen.
                Pada tengah hari, bus berhenti untuk istirahat, yang kemudian dilanjutkan hingga perjalanan menuju Jogja.
***
                Jam sudah menunjukkan pukul lima sore saat aku tiba di terminal Giwangan, Jogja. Rasa asing langsung menyelimuti diriku ketika kaki menginjakkan pertama kali di terminal ini. Aku menuju parkiran untuk menunggu penjemputan. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya seorang pedagan asongan yang sempat menyapaku.
                Kakiku kulangkahkan menuju Musholla kecil yang terletak di dekat pintu kedatangan bus. Aku celingukan tidak jelas mirip anak panti yang hilang.
                Beberapa kali aku mengecek Whatsapp juga SMS, berharap aku segera dijemput. Setengah jam menunggu, tidak ada kabar hingga adzan magrib berkumandang. Aku mulai berpikir, jika penjemputan ini tidak akan pernah terjadi.
                Karena lelah menunggu, juga berhubung sudah Adzan, aku memutuskan untuk shalat. Baru saja aku berkata takbir sambil mengangkat kedua tangan, ponsel evercross hitamku berbunyi. Karena firasatku mengatakan ini adalah nomor penjemput, aku pun mengangkat telepon itu dan meninggalkan rakaat shalat. Sungguh goblok!
                Di sanalah aku bertemu mas Kiki. Kesan pertama saat bertemu dengan dia adalah menakjubkan. Aku begitu takjub dengan ketampanannya. Rambut cepak, serta jaket sporty yang ia kenakan, menambah tingkatan kegantenganya. Apalagi kulit putih bersih miliknya. (Saya sedikit menjilat di sini).
                Aku juga bertemu mas agus yang terus saja menawariku kopi saat aku bertemu dengannya. Ia juga sedang menunggu peserta lainnya yang akan tiba menurut rencana pukul setengah tujuh malam. Namun, kenyataannya dia tidak sesuai jadwal kedatangan. Dia molor. Itulah Om Aswary, Mila dan Farika.
                Mas Agus kemudian berdiri dan segera mengambil mobil. Dimasukkanlah peserta-peserta ini ke dalam mobil. Aku dan Om Aswary berbincang-bincang selama perjalanan menuju lokasi. Entah itu tentang dunia tulis atau dunia lain. Yang jelas, penampakan jelas terlihat dibalik kemudi dan samping kemudian.
***
                Sesampainya di gedung Kampus Fiksi, kami berempat di sambut dengan hangat. Baik peserta lain maupun panitia. Ada Mbak Rina, Mbak Utami, Mas Wahyu, dan mbak satu lagi aku lupa namanya. Sementara dari peserta ada Riana, Iken, Moly, Mas Gin, Garin, Om Danang, Amir Sahri, Ovie jemblung, Riza, Munawir, dan Rialita. Saat itu mereka sedang menyantap makan malam.
                Karena kami datang di saat yang tepat (baca : waktu makan malam), maka dengan cepat kami saling akrab antara peserta satu dan peserta lain. Kami saling bertukar cerita. Saling Sharing. Bahkan saling Bully. Dan bagian itulah yang aku suka.
                Setelah bercerita panjang lebar, semua peserta bersiap menuju dunia mimpi. Dengan segala kepenatan yang di dapat, kasur adalah obat mujarab untuk menyembuhkan hal tersebut. Dan, hari kami semua di sana akan segera di mulai.
***
                Hari telah berganti pagi ketika aku membuka mata. Rasanya, baru satu jam aku menutup mata, kemudian hari telah berganti. Ajaib.
                Saat kubuka pintu kamar, suasana ruangan kelas telah riuh. Teriakan-teriakan protes begitu mengema di seluruh ruangan. Dari semua teriakan itu, suara Ovie lah yang paling keras, ngotot minta mandi duluan.
                “Buka pintunya! Siapa sih di dalem? Lama banget,sih!” Ovie sudah tidak sabaran di depan pintu kamar mandi. Kakinya bergerak-gerak, mirip anak SD latihan jalan di tempat.
                Bukan hanya Ovie saja yang seperti itu, Mas Reza―Dedengkot Kampus Fiksi― mondar-mandir di sekitar ruangan.
                “Siapa sih di kamar mandi? Pengen nongkrong, nih.”
                Dua jam berlalu. Aktvitas perebutan kamar mandi pun usai. Semua peserta pun memulai ritual pagi sebelum acara. Sarapan.
                Seperti tadi malam, di sela-sela sarapan mereka saling bercerita tentang pengalaman mereka, budaya mereka, dan macam-macam. Aku hanya mendengarkan saja. Ternyata cerita mereka unik-unik dan layak untuk disimak.
                Selesai sarapan, seluruh peserta kembali menduduki posisi duduknya, yang sebelumnya telah diberikan papan nama di setiap meja.
                Materi pertama akan diisi oleh Pak Edi, CEO dari Diva Press sendiri. Jantungku berdegup kencang, menunggu sosok Pak Edi. Sosok yang katanya seperti bapak-bapak. Entah mengapa, suasana ruangan tiba-tiba membuatku merinding.
                Beliau datang. Langkah tegapnya membungkam seluruh peserta Kampus Fiksi. Tak terkecualI juga panitia. Saat beliau duduk, semua yang ada di ruangan itu menahan napasnya. Aswary yang tadinya tenang, kini menjadi gelisah dan mulai keringatan melihat Pak Edi yang mulai memegang microphone.
                “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” kata Pak Edi dengan suara berat.
                “Walaikumsalam, pak.”
                Beliau mulai memberikan kata sambutan. Lantunan suaranya serasa menghipnotis kami semua dalam diam. Kalem dan tegas. Aku sendiri sampai tak bisa berpaling darinya ketika berbicara. Ah, rasanya aku terpesona akan bapak itu. #Plookk
                Usai memberikan sambutan, beliau langsung memberikan materi tentang teknik kepenulisan. Seluruh peserta sibuk mencatat selagi mendengarkan beliau bicara. Aku turut mendengarkan sembari mata ini mulai menurun daya buka kelopaknya.
                “Baik apa ada yang ditanyakan?” Pak Edi menawarkan kepada seluruh peserta. Saat itulah aku bangung. Linglung.
                Usai materi dari Pak Edi selesai, giliran Mbak Rina untuk menyampaikan materi serta tantangan menulis tiga jam dari setting favorit.
                “Sekarang saya tanya, setting mana yang ingin kalian tulis?” tanya mbak Rina.
                Masing-masing dari kami menyebutkan setting yang ingin kami tulis. Mulai dari Yuni urut. Hingga tunjukan maut tangan mbak Rina ke arahku.
                “Saya ingin menulis setting dunia terjauh, dunia kampus,” kataku memancing tawa.
                Krik...krik...krik..
                Kampret!
                “Baiklah, nanti pada pukul dua, tantangan menulis cerpen tiga jam akan di mulai. Sekarang lanjut pada materi berikutnya tentang editing.”
                Berikutnya diisi dengan materi editing. Kami disuguhkan naskah, yang kemudian dianalisa apa yang perlu diedit dari naskah ini.
                Pukul duabelas kami istirahat makan dan sholat. Kembali kami habiskan waktu itu untuk saling bercerita kembali satu sama lain. Beberapa peserta lain malah memilih tidur di kamar.
                Aku mulai menuliskan outline cerpen yang akan aku buat. Berkali-kali aku mengalami kebuntuan, bagaimana mengalirkan cerita ini. Tiga baris outline, coret! Tiga baris, coret! Begitupun seterusnya.
                Karena pusing, aku memilih untuk makan dahulu. Mungkin setelah makan, aku akan menemukan hidayah atas permasalahanku. Tapi... tetap saja, usai makan malah pikiranku makin buntu. Kampret!
                Aku coba mencari referensi dengan membaca buku. Buku karya mbak Farrah coba aku baca. Baru membaca 3 bab, kepalaku pusing. Bukan karena bukunya, tapi memikirkan outline untuk cerpenku tadi.
***
                Tantangan nulis tiga jam dimulai. Seluruh peserta langsung “On” terhadap laptopnya masing-masing. Mata mereka sampai nyaris keluar karena terlalu fokus. Sementara aku masih linglung dan berpikir “Ini kita lagi ngapain?”
                Tanganku terasa kaku ketika ingin menuliskan kalimat pertama, bahkan kata pertama. Melihat yang lain dengan lancarnya menuliskan kata-kata dalam naskahnya.
                Anjir, aku kayaknya paling bego deh!
                Namun, aku tetap pantang menyerah. Jika di sini saja aku sudah memutuskan untuk kalah, bagaimana bisa kedepannya aku menjadi penulis sesungguhnya. Ini adalah miniatur dunia tulis menulis. Jika di sini gagal, maka sampai kapanpun dunia tulis menulis tidak akan pernah ada untukku.
                Dengan perlahan aku menuliskan kalimat pertamaku. Keringat dingin keluar. Setiap menulis kata, maka satu buah waferlah yang jadi korban. Maka jika ada 3000 kata yang tertulis, dapat disimpulkan aku telah membuat Diva Press bangkrut.
                Dengan rasa yakin, aku tetap menulis naskahku. Perlahan, alurku mulai terlihat.
***
                Waktu bebas diberikan setelah tiga jam tantangan menulis selesai. Kepala yang berdenyut, tangan yang pegal, melengkapi penat hari itu.
                Hari sudah sore. Bau badan mulai menyeruak keluar setelah seharian duduk menerima materi. Beberapa peserta tampak berlarian di ruangan tujuh kali delapan meter, guna berebut kamar mandi. Tak jarang, mereka saling gigit untuk berebut kamar mandi.
                Suasana luar ruangan sore itu juga terlihat menenangkan. Langit jingga khas sore serta tiupan angin yang sedikit kencang, membuat penat sedikit berkurang.
                Pikiranku melayang tentang dunia kampus, dunia penuh kesibukan yang setahun kemarin aku digembleng.
                Apa kabar dengan mereka? Kira-kira tanpa aku mereka bagaimana, ya?
                Aku menoleh kembali kepada teman-temanku yang sedang berebut kamar mandi. Kutemukan teman baru di sini. Menjalin relasi, menjalin keluarga baru.
                Setidaknya, aku berharap dalam hati. Semoga keluarga kecil ini tetap ada.
***
                Malam hari, muncul para alumni KF terdahulu dari jaman sekunder. Dipimpin oleh bang Ipul (Saiful Anwar) yang katanya habis dari pantai, mereka datang dengan banyak rombongan.
                Jujur, saat itu aku mengira akan ada tawuran antar angkatan.
                Dengan gagahnya, Bang Ipul sok-sok an memberi materi. Celana tiga perempat, jaket coklat, dan wajah gelap-gelap gosong, penampilannya sangat mendukung untuk menjadi pemateri tentang “Bagaiamana selamat dari kebakaran hutan”
                Selama satu jam, Bang Ipul menyampaikan materi. Dan selama itu pula, keringatnya bercucuran.
                Dari materi yang diberikan, satu-satunya hal yang aku dapatkan adalah....
                Tidak ada, hanya sakit perut yang aku dapat akibat kebanyakan tertawa.
***
                Pukul sebelas, para peserta lain mulai kelelahan fisik. Mata mereka mulai mengalami ilusi “Bantal”. Ilusi yang menyebabkan apapun yang besar dan lebar, akan terlihat seperti kasur empuk yang siap ditiduri. Di sini, Ovie keadaannya sangat terancam.
                Aku dan tiga orang lainnya, masih mencoba bertahan untuk mengikuti agenda terakhir di hari itu. Ngaji.
                Sebelum itu, aku beranjak ke kamar kecil dulu. Urine sudah membuat ujung “Junior” ku menahan perih yang amat berlipat. Efek dari kebanyakan duduk, dan kemudian minum air putih teratur ternyata seperti ini. Sehat, namun agak menyakitkan.
                Kemudian, mimpi buruk di mulai. Ketemu dedengkot, Musuh lama, Trice Fakhri.
                Orang yang pertama kenal ngaku-ngaku muggle. Orang yang baru nimbrung langsung main sok nyepik. Orang yang penampilannya model klimis andika kangen ben. Si kampret Trice, thats the name.
                Trice merupakan mahkluk langka yang aku kenal melalui grup JT. Yah, grup yang mungkin rada nggak jelas jalan kerjanya ciptaan Meili gendut. Grup tersebut aku masuki setelah dulu sempet jadian sama pacar (baca : sekarang mantan!) Dalam grup tersebut projek kita banyak. Mulai dari sharing ilmu, bikin cerpen, sampai kumcer. Tapi yang perlu digaris bawahi, kita lebih banyak becandanya dari pada melakukan kegiatan yang tadi.
                Oke, balik lagi ke sosok Trice kampret.
                Akhirnya, aku bisa berkomunikasi dengan mahkluk astral ini. Setelah sekian lama hanya chatting saja via Wassap, sekarang nyatalah bentuk Trice sesungguhnya. Setidaknya, dia masih punya rupa wajah yang kira-kira.... sebelas duabelas sama Walrus.
                Pada pukul tepat 12 malam, acara ngaji bareng dibuka. Pak Edi menjadi pemimpin. Agenda pada ngaji kali itu berupa khataman Al-Quran dan tahajjud bersama. Rasa khusyuk menyelimuti orang-orang yang saat itu masih membuka mata untuk tahajjud. Rasanya seperti ringan usai melakukannya. Inikah efek dosa yang terkikis?
                Setelah itu, seluruhnya beristirahat. Besok adalah hari terakhir di Kampus fiksi. Jadi, sekalian mempersiapkan tenaga untuk pulang juga.
***
                Hari ketiga, pemateri berasal dari luar Diva. Akan tetapi, beliau merupakan teman dari Pak Edi sendiri.
                Pak Joni namanya. Orangnya agak kurus namun tinggi, kepala botak dan berjenggot panjang. Suaranya mirip kakek-kakek renta yang khas dengan serak-serak basahnya. Dengan gagahnya dia maju, dan mulai memegangn mic untuk menyampaikan materi.
                Beliau mulai bercerita tentang perjuangannya menjadi seorang penulis seperti ia sekarang. Diawali dengan ia berguru pada ayah temannya yang merupakan seorang penulis. Ia disuruh untuk membaca buku pilihan gurunya. Namun, yang perlu diketahui, pak Joni tidaklah suka membaca awalnya. Namun dengan dorongan gurunya, maka ia jadi suka membaca. Dan uniknya, ia disuruh gurunya untuk membaca satu buku dalam sehari, baru ia bisa meminjam buku lain. Jika tidak dibaca maka ia akan mendapat hukuman dari gurunya tersebut.
                Cerpen awal dari Pak Joni berjudul Lampor. Kisahnya menceritakan tentang kehidupan pekerja seks yang ada disekitar tempat tinggal beliau. Bagaimana dia melayani pelanggan, baik muda, tua, maupun remaja. Beliau membeberkan caranya menulis cerita.
                Meskipun begitu, lebih banyak tertawanya selama beliau menyampaikan materi. Beberapa hal aku dapatkan dari beliau seperti rajin-rajin membaca, berlatih menulis tiap waktu, dan masih banyak lagi. Intinya apa yang beliau berikan, akan menunjang kedepannya bagi calon-calon penulis yang saat itu ada diruangan.
                Kemudian, Pak Joni selesai dan peserta memberikan applause yang meriah, diselingi dengan pemberian cinderamata oleh Pak Edi selaku CEO Diva Press.
                Berikutnya, diadakan analisa cerpen. Pak Edi menyayangkan karena hanya satu cerpen yang layah dibahas. Milik Om Ginanjar lah yang saat dibahas. Dengan konsep surealis, Pak Edi terkesan dengan karya itu dan menjanjikan jika cerpen itu akan masuk dalam Basa-basi.co. Lumayan lah, dapat honor.
                Sementara cerpenku? Ah, sudahlah! Dementor saja paling juga pingsan saat membaca kalimat pertama.
***
                Sebelum penutupan, aku sempat bertarung dengan Trice kampret. Trice ada saja modusnya buat deketin cewek cantik. Riana yang kala itu coba ia deketin. Beberapa kali kulihat wajah Trice mupeng. Aku menggodanya via Wassap grup JT. Alhasil grup jadi rame. Apalagi ketika kulontarkan isu jika Trice mandi pas hanya mau modusin cewek.
                Dan kami pun makin panas ketika menjelang puncak penutupan Kampus Fiksi #13. Pak Edi selaku CEO, membuka acara penutupan itu dengan suara berat yang membuat merinding. Dengan khidmat seluruh peserta mendengarkan dengan seksama petuah-petuah dari sang bapak. Aku pun manggut-manggut tanda paham.
                Setelah rangkaian acara ditutup, maka acara berikutnya adalah yang paling menyedihkan. Perpisahan.
                Semuanya saling berpelukan, dan saling meneteskan air liur. Aku dan beberapa peserta lain seperti Aswary dan Fariha memutuskan untuk pulang mendahului yang lain. Karena mereka ingin jalan-jalan terlebih dahulu. Kami pun semuanya, dibekali dengan satu kardus berisi buku. Dan sumpah, ini berat banget.
                Kami yang datang menggunakan bis, pulang juga menggunakan bis. Aku dan Aswaru berbeda bis, karena aku mengincar pemberhentian di ngawi untuk shalat isya. Yah, apa boleh buat aku pun berpisah di giwangan. Disayangkan memang. Namun apa daya, aku lupa belum shalat tadi.
***
                Kampus Fiksi menyajikan cerita lain dalam hidup. Aku bertemu orang-orang baru, bertemu orang-orang hebat, dan bertemu orang-orang epic macam Ovie dan Trice. Tapi, aku bersyukur akan hal itu. Aku bersyukur karena tidak banyak orang yang memiliki kesempatan itu. Aku bersyukur karena bisa memiliki relasi seperti itu. Harapanku tetap seperti dulu aku mulai menuliskan cerita, menjadi penulis. Tetap dan tidak berubah. Cmiww..

               
               

Short Story Mind @ copyright 2013. Diberdayakan oleh Blogger.
Blacy Smiley - Silly

Check

Jaringan Penulis Indonesia Moker

Riwayat Hidup

Foto saya
Gue adalah gue. Gue yakin jika gue akan jadi penulis. Kenapa..? Karena gue saat ini sedang menulis ini. Nggak percaya, liat aja tulisannnya. Follow @propariotik

Pengikut

Visit

Cerpenmu